Ilustrasi Istimewa

Proses screening tindakan awal petugas kesehatan terhadap pasien gejala Covid 19. Problem-nya tidak semua hasil tes PCR swab atau proses screening bisa cepat didapat dengan cepat…

Jakarta-Intipnews.com:Sudah 94 nyawa dokter melayang, namun sampai saat ini belum ada payung hukum sistem kerja tenaga medis yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Apalagi kini jam kerja tenaga medis cukup tinggi, menyebabkan jam tidur dan waktu makan berkurang.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia [PB IDI] dr Adib Khumaidi, Kamis [27/8]. “Belum ada UU khusus ketenagakerjaan yang mengatur jam kerja tenaga medis. Sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh,” ujarnya menjelaskan.

Informasi dihimpun Intipnews.com, Minggu 30 Agustus 2020, Adib menambahkan, banyak tenaga medis yang meninggal justru bertugas di luar ruang isolasi. Semakin bertambahnya jumlah pasien positif virus corona, diiringi juga dengan duka yang dirasakan oleh IDI dan para tenaga medis lainnya.

Humas IDI Pusat dr Halik, membenarkan informasi sudah ada lebih dari 94 dokter yang meninggal karena Covid 19, sebagaimana dilansir IDN Times. Memang risiko terinfeksi virus corona dapat terjadi pada siapa saja. Namun, ungkapnya, tenaga medis memiliki risiko lebih besar.

Sebab tenaga medis melakukan pelayanan kontak secara langsung terhadap pasien positif virus corona [Covid 19]. Wakil Ketua IDI juga menjelaskan tenaga medis memiliki viral load yang lebih besar dibandingkan masyarakat lainnya.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini