Cagar Budayaku yang Malang, Satu Persatu Hilang, Tak Pernah Kembali

0
17
Kantor Pos Medan

OLEH FUAD ERDANSYAH

Fuad Erdansyah

Intipnews.com:NYARIS setengah abad silam, sejak konvensi mengenai perlindungan warisan budaya dan alam dunia dalam Pertemuan Umum Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB] di Paris dari 17 Oktober hingga 21 November 1972, tentang pentingnya perlindungan terhadap “warisan budaya”.

Yaitu terdiri dari monumen, karya arsitektur, karya patung dan lukisan monumental, elemen atau struktur yang bersifat arkeologis, prasasti, tempat tinggal gua dan kombinasi fitur, yang memiliki nilai universal yang luar biasa dari sudut pandang sejarah, seni atau sains.

Konvensi ini mengingatkan seluruh bangsa-bangsa dunia, tentang kewajiban menjaga seluruh warisan budaya, baik oleh negara, hinga berbagai komunitas penggiat dan pelestari budaya termasuk situsnya. Namun apa yang terjadi.

Ketika kesadaran tergerus oleh berbagai kepentingan terutama bagi kalangan tertentu yang mengabaikan keberadaan cagar budaya sebagai warisan budaya yang wajib dilindungi bahkan telah dipayungi regulasi hukum. Sebuah keniscayaan yang terjadi hari ini, membaca berita dari berbagai media, sesuatu yang dilindungi ternyata telah punah dan tak mungkin lagi berdiri seperti sediakala, ironis.

Cagar Budaya di Medan termasuk di dalamnya bangunan bersejarah yang masih tersisa di sebagian inti kota Medan. Keberadaan ragam bangunan tersebut menjadi kebanggaan dan ikon kota Medan yang kerap menjadi inspirasi bagi lintas generasi dalam berbagai ekspresi.

Dalam dunia seni bangunan heritage yang berada di Kota Medan kerap menjadi seting dalam penciptaan karya seni, baik film, seni pertunjukan, seni lukis, hingga fotografi. Sebagai bangunan peninggalan kolonial Belanda ini memiliki nilai arsitektural yang anggun dan megah.

Gedung tua bersejarah di Kesawan Medan. Istimewa

Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia memiliki bangunan kuno sebagai heritage dan hampir semua menjaga dan melestarikan bagunan tersebut sebagai kebanggaan dan ikon setiap kota. Monument, patung, bangunan kuno tak ayal sebagai penanda kota meski sama-sama bekas peninggalan kolonial Belanda namun tetap memiliki ciri yang berbeda satu dengan lainnya.

Keberbedaan inilah yang menjadi kebanggaan sekaligus daya Tarik pariwisata daerah. Mulai dari ibukota, Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang hingga Surabaya sampai ke Denpasar Bali.

Bahkan beberapa pemerintah kota tersebut tampak seakan berlomba untuk melestarikan bagunan bersejarah mereka terlebih yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Bagi Sebagian masyarakatnya memandang Cagar Budaya adalah situs yang sakral karena nilai historisnya, hingga memiliki institusi sebagai badan perlindungan kepurbakalaan seperti halnya pada berbagai candi yang ada di Yogya, Jawa Tengah dan provinsi lainnya.

Medan kota yang dinamis dengan pluralitas warganya dari ragam suku budaya. Kesejarahan sebagai kota Medan terkadang bagai “senandung sunyi” di derunya suara bising kota, tenggelam oleh keserakahan segelintir orang. Medan ibarat kota singgah, yang tak memiliki jati dirinya sebagai kota yang sarat dengan perjuangan.

Dalam peristiwa yang terjadi kali ini, andai saja tidak ada rekan wartawan dan media yang memberitakan, nyaris sebagian besar warga Medan tidak akan pernah tahu jika di antara Cagar Budaya yang ada di Kesawan dan di Jalan Hindu Medan telah digantikan oleh bangunan lain.

Sebuah bangunan, di Jl. Raden Saleh Medan mengadopsi ciri arsitektural bangunan kuno peninggalan Belanda

Sontak menjadi viral di Media hingga menggerakkan tulisan ini sebagai bentuk keprihatinan atas peristiwa merusak cagar budaya. Penulis sebagai bagian dari komunitas seniman seni rupa Medan bernaung di Simpaian Seniman Seni Rupa Indonesia [SIMPASSRI] di Medan sangat prihatin dan kecewa dengan pemangku jabatan atau dinas terkait yang membidangi Cagar Budaya tersebut.

Bagaimana tidak, berpuluh tahun menetap di kota Medan, dan berpuluh kali pula bangunan bersejarah Kota Medan menjadi obyek seni rupa bagi sebagian besar kalangan seniman, pelajar, anak-anak muda, mahasiswa, praktisi hingga penggiat seni budaya kerap menjadikan bangunan kuno, cagar budaya dan heritage lainnya sebagai obyek lukisan pada kanvasnya.

Demikian juga seni lainnya fotografi, cinematografi, hingga perfilman, bahkan telah menjadi komoditas industry kreatif tanpa merusak atau menghilangkan bangunan tersebut. Selain sebagai proses estetik, juga terkandung kesadaran empatis akan nilai kesejarahan yang sangat besar manfaatnya bagi generasi bangsa yang kelak mewarisi kota dan mengelolanya dengan baik.

Namun apa yang terjadi jika bangunan bersejarah kemudian raib ditelan zaman dan perlahan pupus dari ingatan generasi muda kita saat ini. Perjalanan bangsa sepanjang zaman tak mungkin seorangpun abadi mengelolanya, melainkan lintas generasi. Jika keserakahan tak berkesudahan dan tanpa kesadaran niscaya generasi kita tak pernah ingat lagi tentang apa yang pernah dimiliki oleh masyarakat kota Medan sebelumnya.

Syukurnya bersamaan dengan hadirnya figur walikota yang baru Bobby Nasution bahkan dalam hitungan hari memulai masa baktinya Bobby telah mengambil sikap tegas atas konsekuensi hilangnya Cagar Budaya tercinta di Medan.

Pemeliharaan kota tidak mudah, banyak variable yang harus dikelola dengan baik. Pengelolaan mustahil hanya dilakukan seorang figur pemimpin jika tidak disertai komitmen dan integritas semua pihak khususnya institusi yang berkaitan dengan seluruh kepentingan kota dan masyarakatnya.

Bangunan Kuno di Jalan Perdana Medan

Seperti halnya dengan ragam situs di kota Medan membutuhkan “kesetiaan” siapapun untuk tetap menjaga dan melestarikannya. Melihat beberapa kasus di wilayah Indonesia umumnya situs-situs budaya yang mereka miliki menjadi obyek wisata favorit, menjadi komoditas wisata dan devisa lokal untuk pemerintah setempat dan masyarakatnya sendiri.

Pengelolaan obyek budaya seperti ini akan memeratakan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Istana Maimon di Medan misalnya, dengan pengelolaan yang baik maka masyarakat sekitarnya dapat memanfaatkan potensi ekonomi dengan optimal. Ada sejumlah pedagang, pengrajin yang mengisi peluang pasar seni berupa souvenir maupun barang fesien lainnya.

Medan dikenal sebagai kota kuliner kaya dengan jenis menu makanan yang berbeda dengan wilayah lainnya. Bahkan Medan menjadi buah bibir di kalangan penggemar kuliner hingga ke manca negara. Kendati harga jajanan kuliner terbilang lebih mahal dari wilayah lainnya, namun tetap saja geliat kuliner tak pernah surut.

Demikian juga tingkat persaingan yang tinggi sesama pengusaha kuliner, yang kemudian menginisiasi para creator interior dan eksterior dengan penampilan bergaya Art Deco yang mempengaruhi gaya dekoratif arsitektur, landscape, interior, seni rupa, feisen, lukisan, maupun seni grafis bergaya urban dan kuno.

Tampak jelas gaya Art Deco yang muncul sejak PD 1 kembali melanda dunia, dari berbagai sumber ilmiah seni, Art Deco merupakan representasi ide-ide ke-kuno-an Mesir, Persia, Syria layaknya pada makam-makam Mesir Kuno. Aktualisasi yang muncul di abad 20 menjadi trend bagi sebuah kota, terlebih kota urban yang nyaris tidak memiliki identitas lokal.

Restorasi Miniatur Diorama bangunan bersejarah Semarang

Demikian di Kota Medan, berbagai sudut kafe, restaurant, ruang-ruang publik mengadopsi nuansa Art Deco meski tidak sepenuhnya, sebab masih berafiliasi pada gaya-gaya seni rupa modern, mural dan obyek tiga dimensinya. Namun fenomena Art Deco mulai diterima sebagai akulturasi budaya popular dan menjadi ekspresi seni visual dari bangunan-bangunan kuno, cagar budaya, maupun heritage lainnya.

Daya kreasi Art Deco yang kemudian dikerjakan oleh kalangan generasi muda dan senimanseniman lainnya dan menjadi peluang ekonomi bagi mereka, yang nota bene para perupa, penggiat seni dan maupun penggiat budaya mendapat kontribusi dari jasa keterampilan mereka yang ikut memoles wajah kota menjadi tidak tampak kering dan kaku.

Namun betapa mirisnya ketika bangunan-bangunan kuno, cagar budaya, dan heritage semakin sedikit, tidak tertutup kemungkinan peluang industry kreatif karya generasi muda saat ini akan berpindah ke daerah lain.

Bukankah warisan budaya ini telah menjadi “sahabat” dan penanda sejarah. Kemudian dari peristiwa ini yang menjadi pertanyaan, sejauh manakah peran para Dinas-Dinas terkait dalam menjaga warisan budaya tersebut untuk generasi kita kelak.

Akankah kita hanya termangu jika suatu saat mendengar lirik lagu Iwan Fals “Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota…namun sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri….Satu persatu sahabat pergi dan takkan pernah kembali…

  • Penulis adalah, Penggiat dan Pemerhati Seni Budaya