Dari Trilogi Novel ‘Deburan  Ombak Selat Malaka’

No.2

Intipnews,com:SAAT itu, Kartini datang ke rumah sahabatnya di Medan. Masih segar dalam ingatannya, waktu itu diantarkan Haji Sardan. Dia masih ingat ketika Haji Sardan mengatakan, apakah lebih baik pamit dengan Ustadz Daham. Tidak, tidak katanya kala itu. Keras hatinya untuk tidak mau lagi bertemu lelaki yang masih ada di hatinya, tapi Bundanya tidak suka. Dia takut hatinya tidak kuat untuk berpisah. Lebih baik tinggal dengan sahabat, terserah bagaimana jadinya. Tini sudah siap kalau harus indekost.

Soal sahabat, ia masih ingat pesan orangtuanya, sahabat sejatimu adalah orang yang senantiasa jujur kalau salah dia ingatkan, bukan membenarkanmu untuk terus melakukan kesalahan. Lebih baik ialah sahabat yang salih akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetahui, maka malaikat juga mengaminkan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi. Artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya.

Begitulah persahabatan Tin dengan Pida dan Lies yang memutuskan dirinya tinggal di kamar abangnya. Setelah abangnya berumahtangga dan pindah ke Bali bersama istrinya, kamarnya kosong. Tin mengatakan, dia akan membayar tempat tinggalnya setiap bulan. Namun mamanya Lies melarang anaknya menerima uang itu. Tetapi Tin tetap  membayarnya. Akhirnya tetap diterima namun ditabung oleh Mama Lies untuk uang kuliah Tini.

Padahal Tini sudah menyebutkan kepada Mama Lies, dia masih menerima uang dari lima rumah warisan orangtuanya yang disewa. Juga ada hasil dari kebun kelapa, ladang yang dikerjakan tetangga dengan sistem bagi hasil. Sampai di situ kenangannya berhenti setelah mendengar suara diketuk dari luar. Suaminya sudah pulang.

Tin membukakan pintu untuk suaminya yang segera melangkah ke dalam rumah dan mencium istrinya. Seperti yang biasa dilakukannya sejak menikah. Tini pun membukakan baju suaminya dan membiarkan telapak tangan Dokter Muslim menjamah pinggangnya. Lalu mengambil baju ganti dan ke ruang tengah menghadap meja makan. Menyediakan makan suaminya.

“Apa menu hari ini Dik Tin,…”

“Coba Abang terka,…”

“Pasti makan enak,… kita hari ini.”

“Ini dia,….” kata Tin sambil mengeluarkan ikan bawal ditim dan masih hangat.

“Padahal baru mau abang bilang, besok makan bawal tim. Eh,…sudah tersedia…” begitu kata suaminya dengan senang hati. Bagi Tini perkawinan yang tidak disangka sebelumnya ini, suaminya adalah orang yang sangat baik. Cinta tumbuh setelah beberapa hari bergaul satu rumah pasca menikah. Suaminya pun sering berbisik ke telinganya ketika berbaring di peraduan. Lama dirinya mendapat jodoh, ternyata ditunjukkan kekasih yang terbaik, bisik suaminya.

Padahal kala itu, saat menikah dengan Tini, sebelumnya hanya membawa Tin kepada ibunya yang sudah lama menginginkan anak lajangnya segera menikah. Waktu cuti, Dokter Muslim memberanikan diri untuk meminta Tini menemaninya pulang kampung ke Jakarta. Hanya untuk memenuhi permintaan Bunda harus membawa calon istri kalau pulang cuti. Ternyata Bunda setuju kalau Tini ini menjadi menantunya. Di mata Bunda, Tini cantik jelita, tinggi semampai, berkulit kuning, ramah dan menghormati Bunda serta pandai membawakan diri. Tadinya bunda setengah memaksa, Muslim harus menikah dengan sesama etnis Minangkabau.

Tapi kalau ini yang menjadi menantu Bunda tidaklah mengapa dari suku Melayu. Begitu cerita suaminya mengenang bagaimana awalnya dia menikahi Tini. Makanya saat Dokter Muslim menyebut belum siap untuk pesta perkawinan, Bundanya setengah memaksa, sebaiknya menikah saja dulu. Bagi Tini pernikahannya capur tangan malaikat. Suaminya juga merasa yang sama, malaikat yang membawa lidahnya berani mengajak Tini ketemu Bunda di Jakarta.

Dari tidak ada menjadi ada. Karena adalah, maka adalah,… Begitu tulis Tini dalam buku catatannya menanggapi penikahannnya yang baru seumur jagung. Ini ungkapan hatinya yang dituangkan melalui tulisan, betapa hatinya sangat mencintai suaminya. Dari yang tidak memiliki rasa apa-apa saat memutuskan mau dinikahi. Ia merasa rindu kepada suaminya saat di kampus. Ini manifestasi mencintai suaminya, tidak sekadar jatuh cinta yang sifatnya hanya sesaat.

Suami bagi Tini saat ini adalah seseorang yang selalu ingin menyenangkan hatinya setiap bertemu dan berdua. Apalagi saat suaminya yang diketahui Tini dengan sangat jujur suaminya mengatakan apa saja tentang dirinya. Ia juga selalu mengatakan dirinya sangat seksi, yang tidak pernah dibayangkan jauh-juh sebelumnya. Terus saja apa yang dilakukan suaminya menumbuhkan perasaan yang lebih dalam dan membuat denggan berpisah.

Tanpa disadari Tini, Dokter Muslim juga merindukan istrinya, berulang-ulang menelpon Tini saat meneruskan kuliahnya. Saat sore menjemput Tini di kampusnya terasa lama dan gelisah. Saat melihat istrinya berjalan bersama temannya, laksana bidadari berada dalam taman bunga. Ketika kepada teman-temannya dia pamit sudah dijemput suami, teman-temannya keesokan harinya memuji kegagahan dan kegantengannya, tetapi mereka menyebut suaminya sangat mencintai dirinya.

Cinta bisa menerima kelemahan orang. Tetapi di mata Tini hampir tidak ditemukan kelemahan suaminya. Begitu juga suaminya melihat Tini, tidak pernah ada kelemahannya. Aku mencintainya, setulus hatiku. *Bersambung

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini