Dari Novel Trilogi Deburan Ombak Selat Malaka

No.3

“Tidak. Ini tidak manusiawi dan tidak adil kalau Tini harus meninggalkan suaminya yang baik dan menjadi perempuan muda Ustadz Daham hanya alasan menolongnya untuk tetap hidup,…”

Intipnews.com:DI TENGAH tengah suasana Kartini dan Dokter Muslim sedang mereguk madu pernikahan dengan cinta, keadaan sakit lelaki yang pernah menepiskan cintanya, memilih menikah dengan wanita pilihan Bundanya semakin payah. Ustadz Daham semakinsekarat, dan dokter tidak tahu apa sakitnya.

Namun dari ke hari keadannya terus saja meprihatinkan. Istrinya Zuliana yang berhasil merampas cinta Tini yang sedang hamil tua,  makan katanya terasa kerak. Minum terasa dedak. Shalat tegak pun sudah tidak, kecuali melalui mata dan komat-kamit saja. Tengah malam hingga subuh terus saja mengigau menyebut nama Tini dan meminta dipertemukan sebelum ajal tiba. Ustadz merasa hidumnya tak lagi lama.

Sakit Ustadz Daham muncul setelah Haji Sardan pamit untuk ke Jakarta, diundang  Tini, menghadiri pernikahannya dengan Dokter Muslim.

“Sejak itulah Abang tak mau bicara, tidak mau makan. Kecuali beribadah, berzikir terus menerus siang malam seperti bersufi. Semua aktivitas penulisan dan penerbitan buku berhenti mendadak. Pandangannya kosong. Sering sekali menyebut Tini,” begitu cerita istrinya sambil menangis  tersedu-sedu sambil mengelus perutnya yang membesar dan kadang-kadang sudah terasa sakit seperti aba-aba anak dari hubungan mereka segera lahir.

Mendengar cerita Ana, Haji Sardan dan istrinya hanya diam seribu bahasa. Dimata suami istri ini, Ustadz Daham sudah kehilangan ganteng dan gagahnya, sudah pun kehilangn cahaya kehidupannya. Tubuhnya semakin mengecil, kurus kering tidak berdaging. Bibirnya pecah-pecah, matanya cekung ke dalam dan di sekitarnya membiru, pandangannya katanya samar dan suram.

Ustadz Daham seperti mayat dan tengkorak yang bernafas. Tidak sedikit jamaahnya yang datang ingin bertemu ditolak. Hanya Haji Sardan yang diterimanya. Kata Ana, suaminya tak pernah lagi mengelus perutnya dan mencium bayinya yang ada di rahimnya. Begitu keluh kesah Ana ditemani deraian air mata, dan jiwanya seperti sudah putus asa. Berulang-ulang bibir Ana menyebutkan, dia tidak sedikitpun ingin suaminya mendahuluinya, lalu dirinya menjadi janda. Sambil menangis ditegaskannya, lebih baik mati bersama, mati bertiga suami, dirinya dan bayinya.

“Tolonglah Pak Haji dan Bu Haji sampaikan dengan Tini semua ini, terimalah Ustadz Daham dengan baik. Saya pun ikhlas kalau Ustadz Daham menikahi Tini, saya rela dimadu asalkan ayah bayiku ini dapat melihat Abinya,…” Ana berkata dengan bermandikan air mata, menangis sesegukan, sampai tak sepotong kata pun yang bisa diucapkannya lagi. Sehingga Bu haji ikut menangis terisak-isak memeluk Ana. Bu Haji teringat saat ini Tini menyamar jadi pemulung yang dekil dan kotor, hanya ingin melihat Ustadz Daham bersanding Zuliana dalam pesta perkawinannya yang akbar.

Sungguh menyedihkan kala itu nasib yang dialami Tini diputuskan saatnya berbunga-bunga bagaikan kembang api meledak ke udara. Di waktu yang sama Ustadz Daham mematikan cahaya gemerlap itu hingga menjadi debu yang hitam. Bagi Haji Sardan sangatlah rumit memenuhi permintaan Zuliana untuk menyampaikan kondisi Ustadz dengan Tini yang baru saja menikmati semangat hidupnya bersemi kembali setelah menikah dengan Dokter Muslim.

Dan sangatlah tidak baik bagi Dokter Muslim yang sedang merasakan dengan realistis mencintai sepenuh hati dengan seorang wanita bernama Tini. Tidak masuk akal kalau Tini akan meninggalkan suaminya, menerima kembali Ustadz Daham demi anak dan istrinya.

Bagi sahabat Tin yaitu Lies dan Pida sangat sulit untuk menyampaikan cerita lelaki yang sudah menolak cintanya Tini kini sedang sekarat kepada Tini. Dua sahabatnya ini sangat tidak ingin kebahagian pasangan ini hancur oleh orang yang sebelumnya telah menyakitinya.

“Tidak. Ini tidak manusiawi dan tidak adil kalau Tini harus meninggalkan suaminya yang baik dan menjadi perempuan muda Ustadz Daham hanya alasan menolongnya untuk tetap hidup. Tidak, aku penentang utama. Ustadz Daham yang harus introspeksi,..” kata Pida kepada Lies dengan mata yang melotot-lotot karena emosi.

Saat yang sama, Haji Sardan bersama Bu haji, istrinya masih di rumah Utadz Daham yang kabar diterimanya sakitnya semakin kuat. Ustadz Daham dibaringkan di ruang tamu atas permintaanya agar bisa juga melihat cahaya matahari. Tubuhnya kurus kering, matanya memandang layu ke wajah Haji Sardan seakan ada yang ingin dikatakannya. Tetapi tersangkut di leher Ustadz.

“Lihatlah Pak Haji apa gerangan sakitnya suami Ana ini,…janganlah anak yang di kandungan Ana ini tidak melihat abinya, atau ayahnya,….” kembali Ana mengulang kata-katanya itu.

“Ah,…tak baik berperasangka buruk begitu Ana,…”

“Yang paling sering dia menyebut Tini,…katanya dia sangat berdosa dan besalah dengan Tini,…..* Bersambung

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini