Dari Novel Trilogi “Deburan Ombak Selat Malaka”

No.5

Intipnews.com:TANDA-TANDA melahirkan sudah muncul ditubuh Zuliana, menumbuhkan suasana menjadi cemas dan gelisah antara Bu Haji, Zuliana dan Haji Sardan. Apalagi ketika Ana tidak ingin melahirkan di rumahsakit yang harus meninggalkan suamiya yang sedang sekarat. Ini yang membuat Haji Sardan memacu kendaraannya menemui dokter untuk mau datang ke rumah Zuliana yang segera melahirkan anak pertamanya dari hubungan suami istri bersama Ustadz Daham yang sedang sakit. Tetapi lelaki itu tahu anaknya segera lahir, saat dia tidak dapat berbuat apa-apa, sekujur badannya semakin lemah.

Bu Haji tidak mengerti soal kelahiran, karena dirinya belum pernah melahirkan. Dia hanya memegangi telapak tangan Zuliana yang mulai meringis kesakitan. Berbagai tanda-tanda layaknya wanita akan melahirkan sudah datang. Sebenarnya posisi bayi Zuliana sudah turun, keadaan kepala bayi sudah berada di bawah yang segera merosot ke luar menyaksikan dunia fana ini. Namun Haji Sardan belum juga datang bersama dokter, Zuliana dan Bu Haji gelisah. Dalam diamnya Ustadz berdoa menyaksikan istrinya meregang hendak melahirkan. Bu Haji ikut berdoa terus menerus meminta kepada-Nya agar Zuliana sehat dan bayinya juga lahir selamat. Jangan sampai ada beban baru menambah penderitaan di rumah ini.

Pelebaran serviks berlangsung dengan sangat cepat. Leher rahim pun  sudah terasa mulai melebar. Secara naluri Ana mempersiapkan diri mmbuka pahanya seperti memberi jalan kepada bayinya akan segera meluncur. Dia bisa merasakan sesuatu amat besar segera merosot turun ke mulut bawah perutnya. Dokter belum juga datang, betapa takutnya dia. Namun dia berusaha agar segera dapat melahirkan dengan baik, dia tidak ada halangan. Bibirnya mengucapkan nama Tuhan memohon pertolongan. Menyebut juga nama suaminya agar berkenan membantunya.

Perut terasa keram, punggungnya semakin sakit. Oh, terdengar suara wanita mengucapkan salam. Dokter datang, langsung menuju ke arah Zuliana yang sedang menggeliat-geliat kesakitan. Haji Sardan tidak ikut ke dalam rumah, dia menunggu di teras rumah. Sakit, tetapi Zuliana sedikit merasa tenang karena ada dokter membantunya. Lendir tekstur yang kental, tadinya warna bening, merah muda, kini merah karena darah. Semakin dekat saat bayi lahir.

Perut bagian bawah semakin sakit, kontraksi bergerak seperti gelombang. Kantung ketuban pecah, bayi tak lagi dikelilingi oleh bantalan pelindung, tak lama dokter membantu dengan memberi aba-aba segera menekan perlahan, terus dan seterusnya dan bayi laki-laki lahir. Terdengar suara tangis bayi menggelegar. Bayi sehat seberat dua setengah kologram muncul.

Mendengar suara tangis jabang bayi Haji Sardan mengucapkan Alhamdulillah menengadahkan telapak tangan. Ustadz Daham yang terbaring di sebelah istrinya tersenyum dan juga berdoa. Bu Haji sudah menyiapkan air panas dan kain-kain panjang dan sarung. Tidak ada popok dan pakaian bayi. Zuliana tidak menyiapkan semua itu ketika pikirannya tertuju kepada sakit suaminya yang semakin hari semakin parah.

Mendengar cerita dari Bu Haji dokter maklum, lalu meminta Bu Haji bersama suaminya membeli segala kebutuhan bayi. Tidak menunggu lama bersama Haji Sardan sudah berada di atas kendaraan menuju toko kebutuhan bayi. Untung istrinya membawa uang, dan uangnya pun masi ada dari yang diber Tini.

Dokter membersihkan bayi dan ibunya dengan cekatan. Melakukan pengobatan dengan suntikan serta memberi obat untuk diminum. Tidak lama segalanya usai dikerjakan oleh dokter berpengalaman dengan baik. Begitu Bu Haji datang, dokter memberi bedak, minyak wangi bayi, memakaikan gurita dan popok, lalu membedong. Kemudian mengangkat bayi ke depan Ustadz Dahama, meletakkan di dadanya. Lelaki yang sedang lemah itu berusaha tersenyum dan mengusap kepala bayinya yang berhidung mancung dan kelihatan, seperti bayi Arab Saudi.

Bu Haji dan suaminya menciumi bayi yang munggil tidak kurang satu apapun. Kemudian Haji Sardan berbisik ke telinga Ustadz Daham agar mengazankan bayinya. Ustadz Daham mengangguk pelan dan Bu Haji meletakkan bayinya di dekat wajah Ustadz Daham. Lelaki sekarat itu azan dengan hatinya di telinga putra pertamanya yang baru lahir sore ini ke bumi. Dokter menyaksikan semua itu, ingin bertanya apa sakitnya. Namun momennya belumlah tepat.

Sebelum pulang Bu Haji bertanya bagaimana selanjutnya. Dokter mengatakan setelah dua hari, ada perawat yang rutin datang memandikan bayi dan merawat ibunya hingga putus tali pusatnya. Ketika ditanya bagaimana menganai biayanya, Dokter tersebut mengatakan jangan dipikirkan hal itu. Dia tahu kondisi Zuliana. Dokter yang datang dibonceng Haji Sardan, kini dijemput supirnya. Dokter pun berlalu sambil melambaikan tangan.

Bu Haji menyiapkan makanan yang akan mereka makan. Kembali Suami istri ini tidak dapat pulang ke rumah, menunggui Zuliana hingga sehat betul. Zuliana pun berkomunikasi kepada setiap saudara, handai taulan, jamaahnya Ustadz Daham menyebutkan mereka sudah kedatangan tamu terhormat, bayi yang sehat. Tidak lama berseliweran dan berdatangan ucapan selamat.

Ada kegembiraan di antara kesedihan dengan kondisi suami yang belum juga melihat tanda-tanda kesembuhan. Haji Sardan pun memberitahukan Pida dan Lies, putra Ustadz Daham lahir sudah. Keduanya menerima dengan dingin. Apalagi saat Haji Sardan meminta agar bagaimana caranya supaya dibisikkan ke Tini. Baik Lies mau pun Pida langsung mematikan hubungan teleponnya. Padahal apa yang dikatakan Haji Sardan adalah pesan Zuliana.

“Supaya Tini tahu Pak Haji. Kalau ada apa-apa umur Abang tidak panjang, Ustadz mau bayinya ini diberikan kepada Tini. Itu pesannya, itu amanahnya,…” kata Zuliana.

“Mengapa tidak Ana saja yang membesarkannya,…” tanya Bu Haji.

“Entahlah bu, Ana tidak mengerti. Ana sekarang lebih banyak tidak pahamnya dengan jalan pikiran Abang,…” *Bersambung

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini