Cerita As Atmadi “Cintaku…

0
80

Dari Novel Trilogi “Deburan Ombak Selat Malaka”

No.6

Apakah mengajak suaminya pindah ke Pulau Jawa adalah jalan yang terbaik? Suaminya bisa sembuh dari kerinduaan dan keinginannya yang tidak pasti ini.

Intipnews.com:USTADZ Daham tidak tahu sampai kapan dia menunggu Kartini datang kepada dirinya, berada di sisinya untuk hidup bersama dengan Zuliana. Atau dia yang harus mati untuk keinginannya yang tak pernah tercapai di bumi, dan bertemu di akhirat. Apa yang dilakukannya sekarang ini, menutup diri, menutup segalanya dan memilih diam untuk mendapat perhatian wanita yang diharapkannya, setelah dia menikahi Zuliana dan anaknya baru saja lahir, seperti air di daun keladi.

Harus berapa puluh tahun lagi dia menanti untuk bisa dipertemukan dengan Tini. Apakah ketika dia percaya sekalipun Tini sudah menjadi istri lelaki lain, masih bisa mendapatnya kembali. Bagaimana caranya. Apakah itu tidak menggantang asap. Tidak, begitu kata hatinya. Ingin saja rasanya dia pergi sendiri, terbang mendatangi Tini ke tempat tinggalnya. Lalu mengatakan yang sebenarnya menggumpal di hatinya. Tidak bisa dia mengharap orag lain. Haji Sardan tidak bisa diharap untuk mendapatkan Tini kembali, karena baginya apa yang diingikannya adalah mustahil.

Semua orang menganggap dirinya tolol, mencibir kalau dirinya lebih memilih mati jika tidak mendapatkan cintanya yang sejati. Tidak banyak orang yang tahu cerita Romeo dan Juliet yang membuat orang-orang menyesal dan menangis sedih berkepanjangan, hanya terjadi dalam empat hari. Kematian Romeo dan Juliet sesungguhnya karena orangtua dan yang ada di sekitarnya tidak peduli perasaan cinta yang tumbuh sangat subur dalam dada dua remaja.

Dan istriku Zuliana, Haji Sardan dan teman-teman se kampus pasti menganggap aku gila tolol dan tidak dewasa, jika diceritakan dirinya sangt menyayangi dan cinta sekali dengan Tini, sebagaimana cinta dirinya dengan Zuliana yang telah melahirkan anak pertamanya.

Merasa Kehilangan adalah duka yang teramat sangat dalam, dapat membuat jantung seseorang berhenti berfungsi. Itu diketahui suami Zuliana ini. Dia tidak akan pernah mengatakan semua itu, karena orang hanya tahu kalau orang patah hati mati karena menikam diri, bukan karena menekan emosi jantungnya berhenti.

Ketika dirinya renta dan lemah menahan rindu, tidak lagi siap untuk bertahan. Ketika perpisahan terjadi, tubuh remaja sehat lebih kuat menerima dan mereka punya banyak alasan untuk kemudian melanjutkan hidup. Berbeda dengan dirinya yang semakin lemah. Perlahan-lahan tidak lagi memiliki keinginan hidup, kalau sudah merasa tidak mungkin lagi Kartini datang.

Hilangnya harapan merupakan salah satu penyebab utama depresi yang dalam. Dapat menimbulkan perbuatan dan pikiran aneh-aneh. Peristiwa romantik dan gagalnya keinginan merusak otak dan pikiran. Ini semua yang ada dalam diri Ustadz ketika sebulan sudah tak ingin melakukan aktivitas manusia normal. Makanpun harus dipaksa dan disuapi istrinya Zuliana. Sekarang Istrinya harus mengurus putranya, tertinggalkah perhatian untuk Daham?

Tidak, Zuliani tidak berkurang cintanya kepada suaminya. Hidupnya yang panjang dalam kungkungan ketidakpastian hidup bersama lelaki yang menjadikannya boneka nafsu, telah mengajarkan dirinya menghormati dan mencintai Ustadz Daham sampai dijemput maut. Dicarinya pembantu untuk mengurus bayinya, supaya dia bisa penuh mengurusi suaminya yang lebih banyak terkapar dan diam.

Saat ini, malam dingin setelah hujan sejak sore. Ketika bayinya tidur bersama baby sitter. Zuliani berbaring di sebelah suaminya yang sore tadi baru dimandikan air hangat. Badan suaminya yang kurus dipeluk dan diciuminya dengan cinta.

“Bang, Abang sakit apa sebenarnya Bang,…? Sebagaimana sebelumnya dilakukan Ustadz Daham, menggeleng pelan.

“Abang marah dengan Ana Bang,… bilanglah. Ana sayang sama Abang,…” kata istrinya memelas dengan bibir rapat ke pipi suaminya yang mengangguk, pelan.

Tiba-tiba Zuliana merasa sudah agak lama juga tidak berhubungan, sejak dirinya hamil tua. Ditambah kondisi suaminya yang parah sekarang ini. Tetapi kondisi yang lemah ini tetap dicicintainya, merangsang dirinya memeluk tubuh suaminya erat-erat hingga susah bernapas. Ketika suaminya megap, Zuliana senang dia bisa melepaskan kerinduannya kepada suaminya sesaat.

Diambilnya telapak tangan suaminya yang tanpa nada, dibawanya ke dada dan tubuhnya. Digerak-gerakkan, diusap-usapkan ke mana istrinya mau, namun suaminya menutup mata tanpa nada. Tidak ada aksi reaksi, malah seperti tidur pulas.

“Bang bagaimana Ana ini Bang,…” suaminya tetap diam membisu seribu bahasa.

“Kalau Tini tidak datang kepada Abang, apakah kita akan begini terus? Abang menyiksa diri dan Ana ikut tersiksa Bang. Ana bekerja sendiri mengurus anak dan penerbitan buku kita. Ana tidur sendiri, Abang tidak lagi memeluk Ana,… Bang Abang dengar kan Bang,….”

Ana menangis lagi. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana lagi caranya meminta Tini untuk Ustadz Daham. Ini perbuatan sangat aneh, dan jauh panggang dari api. Namun bagi suaminya tidak apa, dia sudah siap untuk segalanya, siap untuk mati setelah kehilangan Tini. Tetapi Ana tidak mau kehilangan suami yang dicintainya. Suami yang telah memberinya harapan hidup selama ini.

Apakah mengajak suaminya pindah ke Pulau Jawa adalah jalan yang terbaik? Suaminya bisa sembuh dari kerinduaan dan keinginannya yang tidak pasti ini. * Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini