Cerita As Atmadi “Cintaku,…”

0
103

Dari Trilogi “Deburan Ombak Selat Malaka”

No-9

Kalau dibiarkan terus begini, hatinya berkata tidak lama lagi fisik Ustadz Daham tidak mampu menahan beban berat yang semakin melemahkan dirinya, karena semakin tidak mau makan apapun…

Intipnews.com:TIDAK ada yang bisa menjamin, pernikahan dengan pesta meriah dan sangat mahal, akan menjamin langgengnya cinta dalam rumahtangga hingga beranak cucu. Contohnya, aku. Perkawinan kami bernilai paling meriah dan besar di daerah kami.

Setelah kuserahkan semua hatiku dan seluruh diriku, berikut semua hartaku kepada suamiku, di tengah kesedihan tak pernah terbayangkan hidup sendiri di samping suami tengadah tidak bergerak, dan jauhkan diriku menjadi seorang janda.

Tetapi sejak beberapa bulan terakhir, aku terlantar,…papa… dan dibiarkan menggelepar di altar kering dan tandus tanpa sentuhan, belaian dan siraman air gelora cinta dari suamiku yang terus zikir dengan hatinya, tanpa hirau sekelilinya. Zuliana terus saja menuliskan isi hatinya di atas kertas putih dengan jemari bergetar, mengungkapkan apa yang sesungguhnya nyata dialaminya sekarang ini.

Hari-hari bahagia penuh gelora asmara bercinta tidak berjalan lama. Pupus saat dirinya hamil besar, segala bentuk gelora cinta luntur dan kandas seiring setelah suaminya mendengar mantan kekasihnya telah dipinang dan dinikahi lelaki lain.

Suami Ana, Ustadz Daham merasa kecewa berat. Sebelum ia dapat melunasi kepada kekasihnya untuk menikahinya dan hidup bersama istrinya Zuliana, Kartini namanya, sudah memilih menikah dengan Dokter Muslim. Niat hidup poligami pun gugur bagai daun kering dihembus badai.

Semua ini sudah diceritakannya kepada Haji Sardan dan istrinya. Tapi tidak tercatat. Ana tidak puas, sambil duduk mendampingi suaminya, sekarang dia tulis ulang, dan jika memungkinkan kelak dijadikan buku dan diterbitkan. Lalu Haji Sardan diminta oleh Ana untuk membaca tulisan curahan hatinya itu.

“Memang lebih baik dituliskan seperti ini Ana,….siapa tahu suatu waktu nanti ada gunanya,” tukas H Sardan pelan dan datar.

“Semakin hari perjalanan rumahtanggaku Pak, sekarang ini, semakin tidak ada artinya. Suamiku sudah memilih mati sebelum mati yang sebenarnya. Jadi apa arti hidupku ini,….”

“Jadi maumu Ana?”

“Entahlah, semuanya sudah menjadi payah,” kembali Ana bersedih, matanya berlinang. Dia bayangkan hidupnya sekarang ini seperti kupu-kupu yang sebentar hidup. Kini mengurus bayi sendiri, mengurus perusahaan penerbitan buku sendiri, semuanya sendiri.

“Mulanya Abang yang sakit. Lama kelamaan Ana bisa juga sakit jiwa menghadapi keadaan seperti ini,” Tutur Ana sambil menghapus airmatanya yang berlinang.

“Sebenarnya masih ada jalan lain yang bisa kita lakukan. Saya terpikir kemarin, ini persoalan kejiwaan. Maaf, bagaimana kalau suamimu kita bawa kepada dokter jiwa?”

“Maksud Pak Haji suami Ana gila….?”

“Oh tidak,…tidak… bukan itu maksud Bapak. Tidak semua gangguan kejiwaan divonis gila. Dokter nanti yang bisa mengobati kejiwaannya.”

“Apakah agama yang ditekuni dan dipelajarinya tidak cukup untuk dapat menggobati jiwanya yang terganggu karena cinta lamanya menikah dengan laki-laki lain?”

“Semua itu tidak salah Ana, agama juga tidak boleh disalahkan. Hanya Daham sedang dipenuhi suasana dan pesoalan yang sebenarnya tidak perlu menjadi pikirannya. Kekeliruan ini  yang perlu diluruskan oleh orang yang memiliki ilmu kejiwaan.”

Ana terdiam sebentar. Lalu berpikir bagaimana meyakinkan suaminya untuk mau berobat ke dokter jiwa.

“Pastilah Abang tidak mau dibawa ke dokter jiwa,…”

“Dokter yang kita minta datang ke sini. Biar dokter jiwa yang mengajaknya bicara dan melakukan diagnosa.”

“Terserah bapak kalau begitu.”

“Ya, paling tidak kita melakukan upaya. Tidak bisa kita hanya berdiam diri, lihatlah keadaannya sudah semakin parah.”

Sore ini akhirnya terjadi kesepakatan dengan Ana yang tiba-tiba merasa ada sebercik cahaya, harapannya suaminya bisa sembuh dan kembali menjalani hidup seperti yang lalu.

Sementara Haji Sardan merasakan, kalau dibiarkan terus begini, hatinya berkata tidak lama lagi fisik Ustadz Daham tidak mampu menahan beban berat yang semakin melemahkan dirinya, karena semakin tidak mau makan apapun. Makanan baginya adalah zikir, siang dan malam mengharap kepada Tuhan agar membawa Kartini kepadanya. * Bersambung

  • Bagikan cerita bersambung ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini