Cerita As Atmadi “Cintaku,…”

0
88

Dari Novel Trilogi “Deburan Ombak Selat Malaka”

No.10

“Kalau begini, bapak harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Di sana akan diterapi dengan berbagai cara, dari mulai yang ringan sampai yang menyakitkan. Dilistrik,…”

Intipnews.com:PAGI INI Zuliana sangat sibuk, dia harus memandikan suaminya, karena pukul sepuluh nanti H Sardan akan datang bersama dokter jiwa, untuk memeriksa keadaan suaminya. Pembantu yang mengurus bayinya menelpon hari ini agak datang terlambat, harus membawa ibunya ke Puskesmas.

Sekarang, Ana harus menghadapi semua perjaan sendiri. Tidak mungkin ditampik, harus dilakoni. Diapun memasak nasi goreng untuk sarapan. Dia meletakkan bayinya, Abkar di sisi suaminya yang menelentang dan bezikir. Bayinya tidak menangis, dan suaminya tidak bereaksi ada darah dagingnya di sebelahnya.

Membiarkan saja putranya yang miring-miring ke arahnya. Namun dia tidak bergerak, hanya bibirnya saja yang komat-kamit, zikir. Ana mendekati suaminya membawa nasi goreng dan teh manis hangat. Suaminya mesti disuapi seperti bayi. Diangkatnya kepala suaminya perlahan dan meletakkan di pangkuannya. Kemudian menyuapkan ke mulutnya teh manis hangat, menyusul nasi goreng.

Suaminya makan atau minum saat diberikan atau disuapkan. Selebihnya, dia tidak akan pernah meminta makan, minum atau apapun, kecuali diam. Buang air besar juga tidak berkata-kata, persis Abkar yang masih bayi, segalanya harus dilayani.

Ana tetap mengurusnya, melayaninya dengan baik penuh harapan suaminya segera sembuh dan kemudian mereka dapat melalui kehidupan seperti semula. Ana masih meyakini, suaminya akan sembuh, seperti kata dokter tidak ada penyakitnya. Semua dilakukan dengan kemauan sendiri.

“Bang habis sarapan mandi ya,…ada dokter mau datang melihat Abang,..”

Suaminya hanya memandang ke arah mata istrinya dengan pandangan suram. Dari sorot mata suaminya Ana bisa membaca, suaminya keberatan datangnya dokter. Namun Zuliana tetap saja membuka kancing baju suaminya, membuka kancing celana suaminya lalu menggesarnya ke perlak untuk segera dimandikan.

Ya seperti ini, suaminya tetap terbaring dan dia terus menyirami tubuh lelaki yang menikahinya, hingga air menggenangi lantai. Selesai memandikan suaminya, dia mengepel lantai rumah yang penuh genangan air. Untunglah Abkar tidak rewel. Dia anak baik, bermain sendiri.

Usai memandikan suaminya, mengepel dan memakaikan baju batik kesukaannya, kembali ditelantangan di kasur yang sudah diganti sepreinya. Ana memandikan Abkar. Menyusuinya dan biasanya Abkar segera tidur. Sambil menyusui Abkar di sisi suaminya, Ana kembali bertanya kepada suaminya.

“Bang, kapan Abang sembuh,…adek sedih sekali begini terus,…” kata Ana sambil membelai kepala suaminya. Tidak ada suara, tetapi Ana yakin suaminya mendengar.

“Bang, mengapa adek ikut terhukum, karena orang lain menolak kemauan Abang. Ini tidak adil bang,…adek rindu dengan abang lincah dan semangat seperti yang lalu, baik dan sangat perhatian memanjakan adek. Abkar juga rindu belaian Abang,…”

Abkar sudah tertidur pulas di dada Ana. Perlahan Ana meletakkan bayinya di sisi suaminya. Telepon bordering, dari H Sardan yang menyebut sudah menuju ke rumah bersama dokter jiwa. Ana mengemasi apa-apa yang kelihatan berserak dan tak pantas, menyeprotkan wewangian agar dokter tidak terganggu aroma tidak sedap.

Ana sendiri sedikit berdandan dan berganti kostum layaknya wanita muslim, menutup aurat. Dalam hatinya dengan harapan penuh menengadah ke langit, meminta agar suaminya disembuhkan, dan tidak lagi memikirkan wanita yang sudah menjadi milik laki-laki lain.

Dokter pun sampai, menyapa Zuliana dan menanyakan bagaimana kondisinya. Perempuan  muda ini menceritakan dengan singkat, dibantu H Sardan. Kemudian minta diantarkan ke tempat suaminya yang hanya menelentang. Ana membiarkan apa saja yang dilakukan dokter kepada suaminya.

“Pak Ustadz, apa yang sakit,…apa yang bapak pikirkan,…?” Dokter berusaha mengajak suami Ana untuk mau bicara. Tetapi setelah hampir satu jam lamanya, tidak juga ada reaksi.

“Kalau begini, bapak harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Di sana akan diterapi dengan berbagai cara, dari mulai yang ringan sampai yang menyakitkan. Dilistrik,…” kata dokter berusaha mensugesti.

Ternyata bereaksi. Ustadz Daham memandang lurus ke arah dokter. Dari pandangan matanya itu, dokter tahu, lelaki muda ini takut dengan listrik. Itu artinya dia sadar,…* Bersambung.

  • Bagikan cerita novel ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini