Cerita As Atmadi “Cintaku…”

0
77

Dari Trilogi “Deburan Ombak Selat Malaka”

No.1

Intipnews.com:KARTINI, anak Melayu Tanjungbalai Asahan ini biasa disapa teman sekampung dan sahabat di sekolah Tini, ya itu saja. Tini baru saja menikah. Hanya menikah dulu, sebagaimana kesepakatan dirinya dengan suami  untuk menghalalkan yang haram dulu, selanjutnya pesta pernikahan baru akan berlangsung dua bulan ke depan.

Memasuki pernikahan bagi gadis yatim piatu ini tidak disangka-sangka. Terasa sekali ada tangan Tuhan membimbing nasibnya. Pernikahan terjadi tatkala cintanya dengan seorang lelaki sekampungnya. Dia pemuda yang beruntung dapat belajar di pesantren di Pulau Jawa, lalu dengan bantuan Malaikat dari Tuhan membuat dia behasil mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Al Azhar KairoMesir sampai tamat. Dari biaya hidup sampai biaya kuliah dan setahun sekali kembali ke kampung plus uang saku sudah ada yang menanggung.

Namanya Ustadz Daham. Sejak Sekolah Dasar sudah dipanggil Ustadz, karena memang nama yang diberi almarhum ayahnya Ustadz Daham. Karena ayahnya ingin anak lelaki bungsungnya ini menjadi ustadz. Ketika dia kembali dari Kairo setelah menamatkan kuliahnya. Tini bertemu dengan Ustadz Daham di masjid dekat rumahnya di kampungnya. Mulanya ia tersentak mendengar pertamakali suara azan subuh yang merdu dan sugestif membuat dia turun dari ranjang, membuka jendela lalu mengambil wudu, kemudian setengah berlari ke masjid.

Saat menjadi imam shalat, bacaan ayatnya mengusik dan merasuk ke jiwanya, seperti air sejuk pagi hari menyiram sekujur tubuhnya. Selanjutnya dia mengajar mengaji anak-anak kampung yang ramai, merasa mudah dimengerti dan mengenal Ustadz Daham sangat baik di mata anak-anak itu. Para orangtua dan anak-anak muda juga banyak yang menyukainya saat dia memberi tausiah seminggu sekali, menyangkut berbagai problematik kehidupan di bumi Tuhan. Diam-diam Tini merasa jatuh hati, menyimpan sesuatu tanpa disadari terus menjadi pikirannya siang dan malam, ingin saja ia setiap detik berada di masjid bersama pemuda itu.

Malamnya selalu berimajinasi dan terbawa mimpi melayang bersama serta hanyut hanyut dengan gerak gerik dan apa-apa yang diucapkan Ustadz Daham. Hidupnya terasa tidak lengkap tanpa membayangkan wajah Ustadz yang ganteng, berkuklit kuning langsat seperti kebanyakan etnis Melayu.

Tiba-tiba saat terbangun malam dan mengerjakan shalat, hati Tini seperti berkata, inilah lelaki yang akan memimpinnya ke surga dalam menghadapi kehidupan fana, setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Bak kata pepatah Melayu,’Gayung bersambut’, Ustadz Daham sekembali dari Kairo menjadi setelah beberapa kali melihat kehadirannya shalat di masjid, muncul saat dirinya memberi tausiyah. Ustadz merasa ada jaring benang merah memerangkap hatinya. Tini pun pun merasa dari gerak-gerik dan pandangan mata Ustadz yang berusia 10 tahun lebih tua dari usianya.

Tini baru tamat SMA dengan usia 18 tahun, berkata jujur kepada dua teman sekolah yang sangat akrab, Pida dan Lies. Di saat dirinya bergetar dan tertunduk malu setiap bertatapan muka saat mengikuti pengajian Ustadz Daham. Hari-hari berikutnya semua terbawa dalam mimpi dan di kehidupan kesehariannya. Tini merasa gelisah dan resah sehari saja tidak mendengar Ustadz Daham azan dan aktif di masjid.

Tini bisa merasa sejuk dan tenang setiap imajinasinya berkembang bejalan dan beraktivitas dengan Ustadz Daham yang gagah dan ramah.  Ustadz Daham yang tidak kuasa memendam apa yang dirasakannya untuk Tini bersikap, dalam cinta lelaki haruslah lebih agresif, begitu fitrahnya. Jangan menunggu reaksi dari wanita. Ustadz Daham memberanikan diri, meminta kepada nazir masjid Haji Sardan untuk menanyakan, apakah Kartini mau menjadi kekasihnya. Mau hidup bersama dalam pernikahan sebagaiamana orang-orang Melayu dan orang-orang lainnya yang beragama Islam sebelum dirinya dan Kartini ada.

Kartini terkejut bukan kepalang dengan apa yang dikatakan Pak Haji Sardan kepadanya. Tini tunduk, dan tidak kuasa mengatakan apapun lewat bibirnya, dia merasa malu, takut dan merasa tidak pantas menyebutkan ‘ya’. Walaupun selama ini hati ustadz muda yang terhormat di kampunya ini berdiam di hatinya.

Haji Sardan dan Bu Haji merasa Tini menerima itu dan menyatakan setuju di dalam diamnya seribu kata. Seterusnya jiwa Tini berbunga-bunga, menghubungi dua sahabatnya, mengatakan kebahagiannya jatuh cinta.  Temannya menyambut gembira dan bersyukur.

Namun, ‘Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih’. Sebelum kuntum-kuntum cinta keduanya berkembang, ternyata layu dan jatuh berserakan ke bumi, bagai kaca terhempas ke batu. Cerita Tini menyukai Ustadz Daham rupanya seperti virus yang cepat menyebar, sampai ke telinga Bundanya Ustadz Daham, yang tidak sudi anaknya punya hubungan dengan Tini, karena anak lajangnya sudah dijodohkan dengan wanita bersetempel ‘perawan tua’ tetapi kaya raya dari hasil sebagai aparatur sipil negara [ASN].

Tini dianggap terlalu berani dan perbuatannya akan menjadi penghalang rencana dirinya mengawanikan Ustadz dengan Zuliana yang dapat menjamin hidupnya sebagai janda.

Untuk dirinya yang dianggap terlalu berani menjadi penghalang niat Bunda, Tini didatangi ke rumahnya lalu dihajar, dihadiah bogem mentah. Wajahnya yang halus dan cantik dicakar, untung berhasil dielakkannya sehingga membuat bajunya koyak. Ditinju kepalanya oleh Bunda yang bobot berat badannya 100 kg kurang satu ons. Sakit nian. Selain badan dan pipinya lebam membiru dipukul seperti pencuri, hatinya pedih sekali.

Haji Sardan membawanya ke rumah sakit. Setelah sembuh berobat luka dan lembam biru wajah serta badannya, bersama luka hatinya menuju ke kota Medan menemui sahabatnya Pida dan Lies. *Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini