Jaya Arjuna & Tantawi Panggabean

Intipnews.com:PERISTIWA di sekitar manusia senantiasa dijadikan sebuah objek sepanjang zaman, mengungkap sebuah rasa batin. Di ekspresikan ke berbagai karya seni. Kali ini melalui karya sastra, ialah Puisi, di tengan wabah corona.

Meneruskan puisi yang diungkap melalui penulis sebelumnya, masih tentang duka nestapa dikerubut virus corona, setiap saat menerkam kehidupan manusia dia atas bumi buana. Ketika jiwa terbentur dalam ketakutan, kecemasan dan tak tahu berbuat apa, saat maut bakal menjemput, muncullah kata-kata membawa makna.

Berikut puisi goretan rekan seniman dan intelektual dari Medan Jaya Arjuna. Disusul seniman dan deklamator Sumatera Utara Tantawi Panggabean, diikuti DR dr Umar Zein dari Medan, Dhena Maysar Aslam, penyair Aceh Tengah Salman Yoga S, sebagaimana puisinya dilansir dari serambinews.com, dan AW warga Jawa Baratyang terinfeksi corona begini puisinya. Simaklah.

Jaya Arjuna

Duh, Bencana Kemanusiaan

Bermula, meriak dari Wuhan
Kota pemakan segala hewan
Bencana menakutkan
Mengombak menggulung tak terjinakkan
Menjulang jadi Tsunami penyebar kematian

Di puncak gelombang
Sekelompok orang
Dari puncak gelombang
Mengandalkan kekuatan dan kekuasaan
Bersilancar memanfaatkan ketakutan
Mencekam dan mengcengkeram setiap hati
Jadi penentu kebijakan
Tidak menentramkan dan
Mensejahterakan dan menyamankan hidup anak negeri

Gelombang telah memecah pantai negeri tercinta
Bertabur hancur nilai kemanusiaan
Keluarga hidup dalam pembatasan
Tiada lagi pelukan hangat dan ciuman sayang
Jasad terbujur tanpa kerumunan perpisahan
Penghantar melihat dari kejauhan
Pendidikan berjalan tanpa bentuk jelas.
Pembuat kebijakan melakukan coba coba tak beralas

Ekonomi meroket menghunjam bumi.
Rakyat kecil mengguman doa harapan sepanjang hari
Walau yakin Allah pasti akan memberi
Namun dimana sumber rezeki harus ditelusuri
Pecah rimah-rimah bencana masih bertabur
Hidup masih diselimuti ketidakpastian
Buruk baik tak terlihat batas jelas
Atas nama kebaikan terselip ketidakjujuran
Atas nama kemanusiaan tersembunyi berbagai kepentingan

Harta dunia masih jadi junjungan
Semoga riak bencana kemanusiaan ini segera berakhir
Sebelum semangat semakin lemah terkucarkacir
Riak, gelombang dan Tsunami bencana yang menjulang
Tidak mengubah perilaku pemimpin dan masyarakatku

[Medan, Agustus 2020]

Tantawi Panggabean

Ketika Rindu Terhapus Virus Corona

Terhenyak kerinduan akan bersama kembali
Kelakar, unjuk karya tampil lelucon tak lagi
Nyata.
Hirup kopi tersedak gurauan, susur sungai jua canda lepas bebas
Tahun berlalu berganti tahun namun kerinduan terhapus virus corona muncul membuming dunia.

Rasa takut khawatir berdinamika di dada kita pupus rindu berganti duka karna sua
Tak lagi ada.
Kapankah berakhir semua ini hanya kekuatan iman dan imun menyatukan sabar
Haluku membubung tak terarah coba menulis selalu kehal itu-itu jua covid kembali covid puisipun selalu bertajuk covid.
Penggiat puisi ikut larut dimaknai virus entah bila sirna

Rinduku, rindumu, rindu kita dan rindu kami
Menyatu dari goretan kata-kata tertera
Ujud mu terlukis di keadaan nyata namun keabstrakanmu juga lugu
Bilakah rasa asa rindu ini terjelma.

Umar Zein

Memetik Corona

Laut corona bergelombang
hujan hujat rambat lantang
media memetik tanda petik
positip negatip tak butuh detik
data dan dusta bagai pacu kuda
perjalanan pelik petik corona
tindak medik petik corona
makanan unik petik corona
otak hati petik corona
penguasa pengusaha petik corona
hingga corona henti ganda diri
penutup wajah jadi berlian
cadar mendadak wajar
corona sembunyi dibalik wajahwajah
dibalik sampahsampah
wajahwajah sampah
sampahsampah wajah
wajahwajah jadi sampah
hanya mampu menengadah
pada Mu jua
[Medan, 13.03.2020]
Dibacakan oleh: Yuzika Hizani melalui siaran langsung FB Yuzika Hizani pada Acara Online Meditasi

Dhena Maysar Aslam

Pelabuhan Hidup

Gelap yang kelam kan tiba dengan sendirinya
Raga dan ruhmu akan lepas sejenak melayang menjadi mimpi
Kibasan angin gelap merasuk menusuk setiap rongga kehidupan
Perlahan namun sengit, menjamahi apa yang ada
Terlupa sudah memori palsu itu
Hanya terlewat takkan abadi
Jiwa murka selalu ditengahi suka
Perangai buruk akan terbentuk
Kelam berubah
Muram kalah
Suram tak terjamah
Tanda mulai mengatas
Imaji jadi pasti

Salman Yoga S

Pakanlaya 18 Covid 19 di Gayo

Abad 18 sebuah wabah pernah menyerang warga
Ibu kota Kerajaan Linge digemparkan oleh virus sejenis amuba
Buntul Linge yang ramai tiba-tiba tidak berdaya
Sebab musuh datang tidak diketahui dari mana
Tidak tampak juga tidak dapat diraba
Ia menyerang tanpa senjata
Tetapi dengan tubuhnya yang bersenyawa
Wabah itu bernama Pakanlaya
Wargapun dengan berat hati harus rela
Meninggalkan kampung tercinta
Menghindar dari kuman yang merajalela

Kini di dunia dan Indonesia
Awal abad 21 yang membahana
Wabah Covid 19 menjadi bahaya
Ratusan negara melindungi dan mengingatkan warganya
Virus corona menjadi kedurjanaan bencana
Penyakit yang mematikan bagi penderitanya
Jika wabah Pakanlaya warga mengungsi entah ke mana
Kini Corona memaksa kita berdiam di rumah saja
Tidak perlu bertandang ke mana-mana
Waspada pada yang tidak terlihat mata
Karena ia bisa melekat dari siapa dan dimana saja
Vila Vilar Wih Ilang,

[Takengon, 202O]
AW dari Kota Bogor, mengizinkan puisinya dipublikasi melalui media. Inilah puisi itu, seperti dilansir galamedianews.com dari Antara, Rabu [24/3]. AW dirawat di ruang isolasi di RSUD Kota Bogor setelah dinyatakan positif Covid 19. Ini puisinya tanpa judul.

 

“Aku terduduk di antara lelah dan harap…
mengingat semua perjalanan hidup
apakah ada sisa perjalanan untukku?
Ku tarik nafas panjang,
kubiarkan udara itu mengalir bersama nadi darah ke seluruh tubuh… Di hari yang aku sendiri bingung mengingatnya, batinku seperti lirih berbisik… apakah episode hidup masih akan tersisa?
Tuhan, aku berpasrah atas segala kehendak-Mu, lelah, ragu, pesimis, dan takut, itu ingin ku buang jauh…jauh sangat melebihi dimensi aku hidup sekarang…
aku ingat wajah dua buah hatiku
aku ingat wajah lembut nan tegar istriku
aku ingat wajah wanita yang melahirkanku ke dunia..
semuanya berkata, semuanya berharap
aku kembali…Tuhan, izinkan semangat dan harap itu tinggal bersamaku
bersama obat yang selalu aku makan tepat waktu

Tuhan, izinkan semangat dan harap itu tetap denganku bersama asupan makanan yang sekuat tenaga aku habiskan.

Puisi ini juga diunggah oleh AW di akun Facebook-nya, Senin [23/3].

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini