DR dr Umar Zein

OLEH Dr dr UMAR ZEIN *

 COVIDPEDIA

garis sakit dan mati mendaki
batik uwak-uwak banyak corak
kutuk izin keluar masuk
kembara pidana pencuri raga
rapid swab fiksi diksi

panggilan covid ziarah bisu
telusur resah langkah jenazah
ingin hapus pinsil Izrail
virus bingung di kerumun bansos
konser tanpa melodi di kantor pos
Medan, 12.06.2020 (Zein, 2020. Memetik Corona, Arashi Grup)

Intipnews.com:ARTIKEL ini dimulai dengan intro puisi terkait tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan [Nakes] di benteng pertahanan akhir berguguran. Peluh dan air mata petugas medis dan keluarga membasahi bumi pertiwi mengiringi jenazah diusung kekuburan massal.

Mengalir tiada henti tak mampu menekan serangan pandemi. Jelak teriak serak para pakar bagai aba ididengar. Hiruk pikuk di hilir setiap hari meniup mati. Kasus demi kasus meningkat terus, belum ada tanda-tanda menurun. Pasti ada kendala pada kendali pandemi di negeri ini.

Kendali utama tentunya ada di hulu, yang menusuk bagai sembilu. Kelelahan tenaga kesehatan mulai tampak mengancam. Wajar! Mereka dihujat masyarakat, dituduh mengcovidkan pasien di rumahsakit, agar mendapat uang dari pemerintah.

Sungguh ini menambah lelah dan memancing serapah. Setelah deviasi Bahasa Covidiot, bisa muncul Covidpedia mewarna media. Yang dikhawatirkan, akan terjadi perlawanan pasif para relawan. Sebelum hal ini terjadi, harus ada perubahan radikal terhadap sistem penanggulangan covid 19.

Harus segera dilakukan penelitian lapangan untuk mencari tahu penyebab pasti dari mana penularan tenaga medis terjadi, agar antisipasi dapat dilakukan. Tidak cukup ucapan simpati berduka dan prihatin serta sebutan pahlawan medis di garda depan benteng pertahanan terakhir antara hidup dan mati.

Harus ada upaya mengerucut mencari tahu permasalahan tertularnya tenaga medis ini. Dokter, perawat, analis, dan semua yang bertugas di rumahsakit bagai tak mampu dilindungi dengan APD. Rumahsakit menjadi klaster dan episentrum mengerikan.

Media sosial dipenuhi diskusi yang tak berujung para tenaga kesehatan. Namun, tak menghasilkan sesuatu untuk perubahan. Seminar virtual berhamburan di dunia maya dilaksanakan berbagai pakar berbagai bidang, namun tak ada kesimpulan yang bisa dieksekusi di lapangan.

Hingga awal Agustus 2020, data Pengurus Besar IDI menyebutkan, ada 72 dokter yang meninggal akibat Covid 19. Mungkin tongkat komando di tiap provinsi dan kabupaten/ kota perlu dipindahalihkan ke sosok yang benar-benar menguasai strategi perang terbuka melawan virus corona.

Dengan tindakan yang lebih memiliki daya ungkit yang sesuai untuk menghadang gempuran virus dari segala arah, agar lelah tak berbuah pasrah. Agar grafik tak lagi ke atas mengarah, namun bisa merunduk ke bawah. Badan Kesehatan Dunia WHO memprediksi pandemic butuh berbilang tahun menuju henti.

Tulisan ini hanyalah sekelumit sumbang saran kepada semua pihak, utamanya mengajak insane kesehatan yang masih tersisa di bumi pertiwi ini. Mari bergerak, sebelum mayat lebih banyak lagi berserak!

* Penulis adalah, Pemerhati Kesehatan, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara.

 

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini