Pantai Bali yang dipenuhi wisatawan. Foto Istimewa

Dari 13 destinasi yang disebut media Amerika Serikat itu, Bali dan Pulau Komodo termasuk sebagai destinasi yang dipertimbangkan untuk tidak dikunjungi pada 2020.

Jakarta-Intipnews.com:Jika ini benar terjadi, Bali sebagai destinasi andalan Indonesia akan terganggu akibat media wisata asal Amerika Serikat, Fodor’s Travel, memasukaan Bali sebagai destinasi yang sebaiknya tidak dikunjungi pada tahun 2020.

Alasan media wisata itu memasukkan Bali tidak layak dikunjungi wisatawan pada 2020, karena efek pariwisata massal, sampah, hingga persoalan kelangkaan air bersih.

Pemberitaan media itu pun mendapat tanggapan dari Gubernur Bali I Wayan Koster yang mengatakan, pemberitaan tersebut adalah kampanye negatif dari pesaing Bali.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengatakan, Bali sebagai destinasi andalan Indonesia masih sangat layak untuk dikunjungi, sebagaimana dilansir Kompas.com.

Dari 13 destinasi yang disebut oleh media asal Amerika Serikat itu, Bali dan Pulau Komodo termasuk sebagai destinasi yang dipertimbangkan untuk tidak dikunjungi pada 2020.

Berita Itu Adalah Kampanye Hitam

Fodor’s Travel menyebutkan, Bali pada 2017 dideklarasikan sebagai kawasan darurat sampah lantaran terlalu banyak sampah plastik di pantai dan perairan. Hal lain yang menjadi fokus Fodor’s Travel ialah kelangkaan air bersih di Bali karena pembangunan vila dan lapangan golf yang berdampak pada petani lokal.

Selain itu juga, perilaku turis yang tidak senonoh, terutama di kawasan suci pusat peribadatan, membuat pihak berwenang di Bali berupaya membuat peraturan dan pedoman.

Menurut Gubernur Bali I Wayan Koster, pemberitaan tersebut adalah kampanye negatif dari pesaing Bali. Saat ini, kondisi Bali secara umum masih baik. Hal tersebut dibuktikan dengan setiap tahun Bali selalu diputuskan oleh forum masyarakat dunia sebagai destinasi wisata terbaik.

“Sebenarnya Bali secara umum baik. Ada hal-hal kecil iya,” kata Koster di Denpasar, Kamis 21 November 2019. Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa menduga berita tersebut adalah kampanye hitam dilakukan oleh pesaing Bali. Tujuannya, para pesaing tersebut ingin mengalihkan kunjungan wisatawan asing ke negaranya.

  • Bagikan Berita Ini 

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini