Debitur Minta BRI Gunungsitoli Transparan Soal Sisa Kredit

60
Debitur Veni Gan saat memberi keterangan kepada pers.

GunungsitoliIntipnews.com:Debitur Veni Gan meminta Bank Rakyat Indonesia [BRI] Cabang Gunungsitoli transparan soal sisa kredit dan nilai hasil lelang dua aset miliknya.

“Saya minta BRI Cabang Gunungsitoli transparan dan berharap apa yang telah saya alami tidak dialami debitur Bank BRI Cabang Gunungsitoli lainnya,” ucap Veni Gan kepada media di aula Hotel Malaga, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, Kamis 20 Mei 2021.

Menurut dia, aset miliknya yang di Desa Miga dilelang pihak BRI Gunungsitoli tanggal 8 Februari 2019 senilai Rp 1.433.424.000, sehingga sisa utang kreditnya tinggal Rp 600.000.000.

Kemudian aset miliknya yang kedua dilelang pihak BRI Gunungsitoli pada bulan April 2021 dengan nilai hasil lelang kurang lebih Rp1,3 milliar, atau kurang dari limit lelang sebelumnya 1,4 milliar.

“Kami tidak pernah diberitahu kapan dilakukan lelang dan hanya tahu setelah membuka info lelang, dan sejak 2014 saya tidak pernah diberikan rekening koran walau saya minta,” ungkapnya.

Setelah kedua asetnya di lelang, Account Officer [AO] kredit BRI Gunungsitoli bersama tiga pegawai BRI lainnya mendatangi kediamannya dan menyerahkan selembar hasil print dan mengatakan itu adalah rekening korang yang dia minta.

“Setelah saya lihat isi kertas tersebut yang menurut saya bukan rekening koran dan tidak ada logo BRI, saya tidak punya dana dari sisa pembelian aset saya karena dipotong bunga berjalan, denda, denda berjalan dan biaya rupa rupa,” tuturnya.

Karena merasa dirugikan, Veni ke depan akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum untuk mengetahui kepastian hukum atas apa yang dia alami selama menjadi debitur di BRI Gunungsitoli.

Dari Veni sebelumnya diketahui sejak tahun 2010 dia melakukan pinjaman ke BRI Gunungsitoli sebesar kurang lebih Rp 2 milliar untuk modal usaha dengan agunan bangunan miliknya yang ada di jalan sirao, Kelurahan Pasar dan tanah miliknya yang ada di jalan Diponegoro, desa Miga, Kota Gunungsitoli.

“Pembayaran kredit kami dari tahun 2010 sampai 2013 lancar, dan mulai tahun 2014 usaha pecah belah yang kami geluti mengalami kemunduran sehingga mulai 2014 pembayaran kredit agak macet,” jelasnya.