Diduga Langgar Etik, ICW: Segera Panggil Ketua KPK dan…

0
9
Ilustrasi & Peneliti ICW Kurnia Ramadhana. Foto Istimewa

JakartaIntipnews.com:“ICW mendesak agar Dewas segera memanggil seluruh Pimpinan KPK untuk menindaklanjuti laporan dugaan pelanggaran kode etik perihal tes wawasan kebangsaan [TWK],” kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana kepada wartawan, Sabtu [22/5].

Indonesia Corruption Watch [ICW] mendesak Dewan Pengawas [Dewas] Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK], segera memanggil Ketua KPK Firli Bahuri dan 4 pimpinan lainnya atas dugaan pelanggaran etik dengan menonaktifkan 75 pegawai.

Menurutnya, dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Firli cs dengan menerbitkan Surat Keputusan [SK] Pimpinan KPK Nomor 652 Tahun 2021 sudah sangat nyata. Pasalnya, tes wawasan kebangsaan [TWK] yang diterbitkan melalui PerKom 1/2021 tidak berlandaskan undang-undang.

“TWK tidak ada cantolan hukum, baik UU 19/2019 maupun PP 41/2020. Jika tidak dilakukan, maka Dewan Pengawas tidak lagi menjadi instrumen pengawasan, justru berubah menjadi pelindung Pimpinan KPK,” ujarnya, sebagaimana dilansir Teropongsenayan.

Menurut Kurnia, Presiden harus melakukan supervisi atas tindak lanjut polemik hasil TWK. Sebab, bukan tidak mungkin Pimpinan KPK akan mencari cara lain untuk tetap meneguhkan niatnya memberhentikan 75 pegawai KPK.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana. Foto Istimewa

Diketahui sebelumnya, 75 pegawai KPK melaporkan Firli Cs ke Dewas KPK. Hotman Tambunan, selaku perwakilan ke-75 pegawai mengatakan terdapat tiga alasan pihaknya melaporkan kelima pimpinan
KPK ke Dewas.

Pertama terkait kejujuran. Menurut dia, dalam berbagai sosialisasi pimpinan KPK mengatakan tidak ada konsekuensi dari TWK. “Dan kami juga berpikir asesmen bukanlah suatu hal yang bisa meluluskan dan tidak meluluskan suatu hal,” kata Hotman di Gedung ACLC KPK, Jakarta, Selasa [18/5].

Kedua, para pegawai melaporkan pimpinan ke Dewas lantaran kepedulian terhadap pegawai perempuan di KPK. Hotman mengatakan tidak ada yang menginginkan lembaga negara digunakan untuk melakukan suatu hal yang diindikasikan bersifat pelecehan seksual terkait TWK.

“Ketiga, lanjut Hotman, para pegawai melaporkan pimpinan ke Dewas terkait tindakan yang dianggap sewenang-wenang. Pasalnya, Mahkamah Konstitusi [MK] telah memutuskan TWK tidak akan memiliki konsekuensi terhadap pegawai. Namun, pimpinan KPK justru mengeluarkan SK yang dinilai sangat merugikan pegawai.