Diskusi Medan Berkah, Peranita: di Korea Air Sungai Diminum Langsung

0
187
Narasumber Arisitektur Peranita Sagala

Disebut Pakar Lingkungan hidup Jaya Arjuna, sebaiknya bangunan apa pun yang mau dibuat di Lapangan Merdeka itu jangan ke atas atau ke samping. “Tetapi beberapa tingkat ke bawah, sehingga di atas berfungsi sebagaimana mestinya,..”

Medan-Intipnews.com:Diskusi Ruang Aspirasi yang diselenggarakan Gerakan Medan Berkah di Media Center Medan Berkah, bagaikan sarana mengalirkan komunikasi masyarakat yang selama ini seperti tersumbat untuk dapat berdialog dengan pimpinan Kota Medan.

Diskusi yang dibangun dari hati ke hati dan peserta bebas lepas mengkomunikasikan uneg-uneg dan pandangannya tentang Kota Medan dan pemimpinnya, berjalan hangat namun gembira dipandu Muhamad Asril.

Dari mulai menyinggung tentang sungai dan masyarakat yang puluhan tahun berada di sekitarnya, soal Lapangan Merdeka yang simbolis kapitalistis. Di antara itu perlunya pemimpin berbudaya untuk dapat menghargai berbagai elemen masyarakat yang hidup bernegara di tengah globalisasi dalam Kota Medan yang heterogen.

“Medan ini sudah salah. Medan yang terbentuk oleh tiga sungai sesungguhnya lebih pas dijadikan pertanian, tanahnya subur. Tau-tau dijadikan kota,…” ungkap Narasumber Peranita Sagala dari Ikatan Arsitek Indonesia [IAI].

Diskusi dengan tema ‘Potensi Kearifan Lokal Dapat Menghidupkan Kembali Identitas Kota Medan’, bergulir menceritakan kondisi Sungai Deli dan Sungai Babura yang semakin parah dipenuhi sampah.

“Perbaikan dan normalisasi sungai di Medan untuk bisa kembali jernih dan bersih seperti dulu, cuma wacana pejabat yang tak ada juntrungnua,” kata aktivis Sungai Babura Rahmatsyah.

Aktivis Sunga Deli Hendrik mengungkap, masyarakat Kampung Aur yang tersinggung dengan surat Pemko Medan terkait penggusuran. Pihaknya sedih, seperti dianggap hewan, tanpa ba bi bu mau digusur melalui surat yang bahasanya tidak manusiawi.

“Kami datangi Dinas yang mengeluarkan surat itu. Akhirnya mereka minta maaf. Ini artinya mereka tidak mengerti atau sengaja mau bertindak semena-mena,” tutur Hendrik. Lalu Peranita Sagala bercerita bagaimana Yogyakarta mengkelola sungai. Dan di Korea Selatan bagaimana sungai mendatangkan keuntungan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini