Jaya Arjuna: Mengintip Kondisi Hulu ke Hilir Sungai Deli

0
101
Ir Jaya Arjuna,M.Sc

Pendangkalan Kuala Deli menyebabkan air yang datang dari laut akan meluap ke daratan disebutĀ  banjir rob. Tempat hentian air yang telah diisi oleh sedimen juga mengakibatkan air dari darat terhalang menuju laut.

 

Intipnews.com:AWALNYA PDAM Tirtanadi dibangun oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dikelola oleh perusahaan yang bernama NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih [NV WMAB] berkantor Pusat di Amsterdam Belanda.

Melalui Peraturan Daerah Sumatera Utara [Sumut] No.11 tahun1979, namanya diubah menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi [PDAM Tirtanadi]. Air baku PDAM Tirtanadi bersumber dari mata air Rumah Sumbul di Sibolangit. Kapasitas awal yang dikelola NV WMAB adalah 3.000 m3/hari.

Bersamaan dengan beroperasinya perusahaan air minum, maka daerah Sibolangit hingga ke Sibayak dinyatakan sebagai kawasan konservasi. Konservasi bertujuan agar ketersediaan air baku tetap terjaga dan juga menjaga fluktuasi air Sei Deli tidak terlalu tinggi.

Walaupun dinyatakan sebagai kawasan konservasi, ternyata alih fungsi menjadi lahan pertanian tidak mampu dihempang oleh Pemerintah. Saat ini hutan yang tersisa di hulu Sei Deli tidak sampai 8% dari 30% yang dinyatakan sebagai kondisi ideal oleh peraturan perundang-undangan.

Akibat rusaknya hutan di hulu Sei Deli, Kota Medan yang dilewati Sei Deli sebelum ke muara sangat rawan ancaman banjir. Kerusakan hutan juga menyebabkan menurunnya kemampuan pengisian air tanah. Program yang dilakukan untuk mengatasi banjir tidak terlihat ampuh sebagaimana tertulis dalam perencanaannya.

Lahan kritis yang semakin luas justru diantisipasi dengan pembuatan kanal pengalihan air Sei Deli ke Sei Percut. Penyempitan badan sungai dibiarkan berlangsung yang juga disertai dengan berleluasanya penebangan kayu.

Tidak ada upaya untuk mengembalikan fungsi tata air yang dapat meredam banjir. Tidak ada penghijauan. Tidak ada upaya menghutankan kembali wilayah hulu Sei Deli. Sumber air PDAM Tirtanadi dari Rumah Sumbul sangat jauh berkurang karena diambil untuk dijadikan produk komersial oleh perusahaan air kemasan.

Pemerintah seakan tidak perduli dengan kerugian begitu besar yang dialami masyarakat. Heran, PDAM Tirtanadi justru tidak merasa bahwa sumber air bakunya dari Sibolangit sudah jauh menurun. Kehilangan air baku yang berkualitas tinggi serta biaya produksi yang rendah justru dianggap tidak ada oleh para pengelolanya.