Kasus Novel Bukan Rekayasa, Polisi Harus Tangkap Pelakunya

0
86
Novel Baswedan, korban penyiraman air keras. Foto Istimewa

OLEH ORI RAHMAN,SH * 

Kasus novel bisa menjadi beban sejarah bagi bangsa Indonesia dan pertaruhan pemerintah saat ini…

Ori Rahman,SH

Intipnews.com:PERDEBATAN penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan merupakan rekayasa atau bukan, mulai terkuak. Semakin  terjawab, setelah Kapolri Jenderal Idham Aziz dalam rapat kerja pertamanya dengan Komisi III DPR. Idham memberikan sinyalemen bahwa kasus Novel Baswedan bukanlah rekayasa.

Beberapa hari sebelumnya, tetangga Novel Baswedan yang terusik dengan aksi Dewi Tanjung, telah resmi melaporkan orang yang bersangkutan. Dewi Tanjung dilaporkan ke polisi karena menyatakan kasus novel adalah rekayasa.

Di dalam paparannya di depan anggota Komisi III DPR, Kapolri menyatakan bahwa Polri telah melakukan berbagai upaya untuk mengungkap kasus Novel dan bekerjasama dengan berbagai pihak dalam sebuah tim bersama, namun belum berhasil mengungkap siapa pelaku dan motif penyiraman air keras terhadap novel.

Di sisi lain, Novel selaku korban pesimis terhadap kinerja polisi dalam mengungkap kasusnya, karena Novel sendiri adalah seorang polisi yang mengakhiri karirnya di KPK yang juga tau bagaimana kerja polisi dalam mengungkap suatu kasus.

Berbagai pihak yang selama ini mendukung pengungkapan kasus Novel juga kecewa terhadap kinerja Polri dalam mengungkap kasus tersebut, terlebih lagi bahwa Novel sendiri adalah anggota Polri yang seharusnya Polri benar-benar serius mengungkap kasus yang menimpa anggotanya.

Publik juga sudah bosan menunggu kapan ada hasil dari kerja pengungkapan kasus Novel. Publik juga muak dengan aksi-aksi yang mengaburkan pengungkapan kasus novel seperti yang tengah dipertontonkan oleh Dewi Tanjung.

Kasus Novel sesungguhnya bukanlah kasus pribadi dan kasus kecil untuk bangsa ini. Tim hukum kasus Novel dan berbagai pihak lainnya meyakini bahwa penyiraman air keras terhadap Novel adalah sebagai bentuk perlawanan dari koruptor atas sepak terjang Novel di KPK dalam mengungkap kasus korupsi.

Lebih jauh dari itu sesungguhnya tindakan pelaku adalah untuk memberikan atsmosfir ketakutan bagi segenap pihak yang ada di KPK. Namun KPK melalui Wadah Pegawainya menyatakan dengan tegas akan terus berjuang dan bersama Novel untuk mengungkap kasus novel.

Presiden selaku kepala negara harus mengungkap kasus Novel dan konsisten dengan tambahan waktu 3 bulan yang diberikan kepada Polri untuk bekerja mengungkap kasus novel. Karena kasus novel bisa menjadi beban sejarah bagi bangsa Indonesia dan pertaruhan pemerintah saat ini, apakah pemerintah serius memberantas korupsi atau tidak.

  * Penulis adalah, Aktivis Cikini Studi dan Advokad

* Setiap karya tulis opini disiarkan di  Kontemplasi ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini