Kasus Penembakan, Oknum dan Uji Kompetensi Moral Wartawan

0
116
Covid 19 Kita
Covid 19 Kita, Wind of Change

Intipnews.com:KASUS penembakan hingga meninggalnya seorang wartawan, pemimpin redaksi dan pemilik media sekaligus, membuat banyak orang harus belajar untuk kembali memahami esensi jurnalistik yang mengandung nilai moral di dalamnya.

“Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial,” kata Thomas Jefferson. Namun, sesungguhnya penyimpangan pers sudah terjadi sangat lama di negeri ini, melibatkan wartawan dan unsur-unsur lainnya.

Kejahatan terhadap pers juga melibatkan penguasa dalam bentuk hegemoni. Tetapi, kali ini terjadi dilakukan oknum wartawan. Sehingga masyarakat kesulitan menilai antara wartawan dan bajingan, antara wartawan dan penipu, antara wartawan dan pemeras, antara wartawan dan berbagai bentuk kejahatan atau sebaliknya penjahat yang jadi wartawan. Hanya setipis kulit bawang.

Oknum, dan uji kompetensi moral wartawan. Kemudian wartawan melakukan kejahatan, diistilahkan dengan kata oknum. Kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma, kata ‘oknum’ digunakan untuk menggarisbawahi yang bersangkutan tidaklah mewakili lembaga, instansi. Adalah perbuatan oknum itu, tindakan pribadinya, ini bahasa awamnya.

Serusnya, apa yang dilakukan oknum tersebut tidak semua dilakukan orang-orang seprofesinya. Kasus penembakan jurnalis di Simalungun, Sumatera utara itu juga melibatkan oknum-oknum. Ada oknum TNI, oknum tokoh yang dikabarkan pernah jadi calon kepala daerah di Pilkada. Dan oknum wartawan yang dipilih untuk dibunuh, daripada dibawa ke ranah hukum.

Fokus ke wartawan yang berativitas di jurnalistik, telah diatur Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. Ada kode etik jurnalitik [KEJ], ada KUHP, ada pula UU ITE dan norma-norma lainnya yang berlaku di Indonesia harus dipatuhi.

Para Wartawan meliput peristima. Foto Istimewa

Tetapi tidak sedikit oknum wartawan yang menyimpang, ada oknum pemimpin redaksi [Pemred] melakukan pressure kepada orang-orang yang menjadi objek pemberitaannya. Ada pula oknum pemilik media menyuruh Pemred dan wartawan membuat berita-berita tendensius, untuk mengisi pundi-pundi perusahaan dan membangun rumah dan kantor.

Lalu oknum-oknum pemimpin organisasi profesi, ada yang memanfaatkan organisasinya untuk kepentingan pribadi. Termasuk mencari-cari cara untuk dapat mengambil uang rakyat yang hal itu terlarang. Dan banyak lagi tindak kejahatan oknum-oknum jurnalis mencoreng wajah pers di Indonesia. Sekali lagi dilakukan oleh oknum.

Diketahui, kebebasan pers sesungguhnya memiliki moralitas tinggi di seluruh pelaksanaannya, dalam koridor ‘Wartawan Anak Kandung Kebenaran’. Memiliki tanggung jawab sosial, bermoral, menghormati hak asasi setiap orang dan harus bertanggung jawab kepada publik. Sederhanya ada di Kode Etik Jurnalistik untuk wartawan.

KEJ sekumpulan prinsip merefleksikan peraturan-peraturan terkandung moralitas di dalamnya, yang wajib dipatuhi wartawan. Dapat dipastikan bagi manusia amoral tidak layak bernaung dalam dunia jurnalistik. Karena moral adalah nilai yang absolute dalam kehidupan. Namun institusi yang berhak menilai atas pelanggaran moral jurnalistik adalah Dewan Pers.

Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Orang yang bermoral sebagaimana dibutuhkan jurnalistik, mampu melakukan self-control. Mengendalikan diri dari kepuasan sesaat yang dapat merugikan dirinya dan orang lain [masyarakat].

Di kamus psikologi self control, kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk tidak melakukan tindakan negatif. Self-control suatu keahlian seseorang dalam kepekaan membaca situasi dalam menjalankan profesinya. Maka untuk itu diperlukan juga bagi jurnalis masa kini, ialah ‘Uji Kompetensi Moral Wartawan.

Penulis As Atmadi, Pemimpin Umum Media Online Intipnews.com