As Atmadi

CATATAN AS ATMADI *

Hidup dengan toleransi saat ini, utopis. Toleransi adalah sikap hidup yang sulit diadaptasi dan wajib dimiliki. Maka jadilah seperti laut yang tak terbatas mengupayakan hidup bersama yang harmonis…

Intipnews.com:KETIKA datang tak diundanng virus corona [Covid19], membuat banyak orang kehilangan keseimbangan, dililit ketakutan akibat virus ini, setiap waktu siapapun itu bisa dijemput maut. Lalu pemerintah mengharuskan berdiam di rumah.

Dibuat peraturannya agar tak dilanggar. Namun, banyak sekali warga yang kehilangan pencaharian, kehabisan uang karena tidak bisa mencari nafkah. Dijanjikan bantuan sosial, yang pembagiannya semrawut. Banyak yang seharusnya dapat untuk menyambung hidup, tapi bantuan tak kunjung sampai.

Warga diintip kelaparan, terancam meregang dan mati, kalau tidak segera diatasi dan dicarikan diskresi yang pas. Pemerintah kehilangan keseimbangan menghadapi pandemi corona. Tidak sedikit pemimpin hilang keseimbangan, dan resam keadilan dalam mengatasi warga terdampak virus corona.

Anak sekolah yang sudah tamat SMA, ada tunggakan 2 bulan uang sekolah dipaksa kepala sekolah harus dibayar. Dibayar separuh dulu, tidak bisa! Harus lunas. Manusia pendidik menjadi sangat kejam di tengah pandemi corona. Homo homini lupus.

Padahal, warga negara di mana pun berada, sebagai manusia adalah zoon politicon [mahluk sosial]. Secara alamiah manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup saling memiliki ketergantungan saling membantu dan membutuhkan. Kondisi saat ini antara hidup dan mati. Berdiam di rumah mati kelaparan, ke luar rumah [cari makan] mati disambar virus corona.

Tercermin pada seorang ibu pedagang pakaian di layar kaca terpaksa ngotot, akan tetap keluar mencari nafkah. Kalau pun harus mati, itu artinya dia merasa sudah berjuang di mata anak-anaknya yang lapar. Katanya, Tuhan tahu semua kejadian ini.

Diapun mengaku saat itu tak pernah mendapat bantuan, di tengah ekonomi keluarga yang hancur dan kesulitan makan, karena hidupnya terpukul oleh ganasnya virus corona yang terus merebak. Membantu warga masih diwarnai retorika dan perdebatan. Warga yang disuruh di rumah tidak bisa makan dan bayar sewa rumah.

Karena kesulitan hidup di perantauan, memilih mudik, pulang kampung, tapi dihambat aparat. Peristwa paradoks ini menjadi konsumsi media massa. Mau lockdown atau diganti dengan PSBB, kalau warga kelaparan akan tetap keluar rumah dan berkeliaran. Bukan tidak mungkin akan rawan resistensi seperti di negara lain.

Kalau sampai kehidupan warga semakin parah, dan tak mampu berartikulasi, terus terjepit kesengsaraan di tengah krisis bantuan, pemerintah yang lamban dan terus gagap mengatasi keadaan warga, bahaya mengintip di sana-sini.

Kata kepedulian mengurus kepentingan publik menjadi semakin tipis. Padahal eksistensi penguasa sampai kapan pun sangat menentukan keberadaan sebuah negara, yang mengutamakan kepentingan rakyat. Jika di tengah kondisi seperti ini lebih membangun individualistis, mengutamakan kepentingan pribadi, ini signal semakin melebar kehancuran kepemimpinan.

Apalagi terus berlaku seperti yang dikatakan mantan Presiden Amerika, Lord Acton. Power tends to corrupts [kekuasaan cenderung untuk korup]. Rakyat tetap percaya, bantuan banyak yang tidak sampai dan dana-dana penanganan pencegahan Covid19, akan dikorup juga.

Sehingga Ketua KPK Firli Bahuri dan Menkopolhukam Mahfud MD berulang-ulang mengingatkan, korupsi dana Covid19 dipidana mati. Di balik itu, warga tidak percaya koruptor akan dihukum mati di negeri ini. Tidak sedikit koruptor dihukum ringan dan dikurangi vonisnya, sehingga dalam waktu sesingkat-singkatnya menghirup udara bebas.

Artinya, warga mengurut dada dan menekan perut. Bansos dan dana-dana Covid19 yang tanpa batas tak bebas dari korup. Hidup dengan toleransi saat ini, utopis. Jalaluddin Rumi cuma bisa mengingatkan, toleransi adalah sikap hidup yang sulit diadaptasi dan wajib dimiliki. Maka jadilah seperti laut yang tak terbatas dalam mengupayakan hidup bersama yang harmonis dan penuh keadilan.

*Penulis adalah, Pemimpin Umum dan Ketua Dewan Redaksi Intipnews.com 

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini