Kecelakaan Skuter Listrik, Regulasi Pemakaian Jalan Raya dan Trotoar Harus Diperketat

0
86
Teddy Mihelde Yamin & Ori Rahman

Di Singapura, skuter listrik dilarang digunakan di jalan utama dan trotoar oleh Otoritas Transportasi Darat. Di Inggris, skuter listrik dianggap illegal bila beroperasi di jalan dan trotoar.

Intipnews.com:KEBIJAKAN penggunaan jalan raya, trotoar dan jembatan penyeberangan sebagai tempat bermain skuter listrik harus diatur secara tegas dan dijalankan dengan pengawasan oleh aparat yang berwenang. Jangan hanya panas dan responsif, ketika ada kecelakaan.

Begitu juga para pihak yang berbisnis jasa pemakaian skuter listrik seperti Grab wheels harus ikut bertanggungjawab bila terjadi kecelakaan terhadap pengguna jasa mereka, misalkan memastikan pemakai jasanya dijamin asuransi kecelakaan dan dana maksimum dana CSR untuk pengembangan fasilitas publiknya.

“Bisnis jasa sewa skuterlistrik ini harus juga memiliki regulasi yang ketat mengenai hak, tanggungjawab sosial, dan ketertiban umum sekalipun mereka menjalankan bisnis jasa secara online dengan berbasis aplikasi,” kata pengamat kebijakan publik dari Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin di Jakarta, Sabtu 16 November 2019.

Menurut Teddy, peristiwa kecelakaan yang menewaskan 2 pengguna skuter listrik akibat ditabrak mobil di kawasan Senayan, harus menjadi pelajaran berharga bagi regulator maupun masyarakat pengguna jasa seperti jasa Grabwheels.

“Bermain skuter listrik di jalan raya itu sangat berisiko, apalagi pada saat jam tidur. Lagi pula jalan raya bukan tempat bermain skuter. Apalagi bermain skuter pada dinihari, jelas melanggar aturan keselamatan dan kesehatan. Sebab kondisi pengguna skuter belum tentu fit saat dinihari pada jam orang dipulas kantuk,” ujar Teddy, lulusan Nottingham University, London, UK.

Di lain sisi, menurut Teddy, regulasi jam berbisnis penyedia jasa sewa skuter literlistrik juga harus diatur secara tegas. “Meski berbisnis secara online, bisa saja mereka memastikan penyewanya harus memiliki SIM C karena skuter listrik ini bisa melaju sampai 40 km/jam,” ujar Teddy.

Mereka juga, lanjut Teddy, harus melengkapi standar pengguna jasa seperti helm, alas lutut, siku-siku tangan dan perangkat keselamatan lainnya. Bila ada kecelakaan, korban lebih terlindungi. Begitu pula aturan penggunaan, apakah boleh berboncengan sampai 2 atau 3 orang?

Kita Paham Bagaimana Ruwetnya Jalan Raya di Jakarta

“Mesti diatur sebelum bisnis tersebut dipasarkan ke publik. Seringkali setelah kecelakaan dan jatuh korban, baru dipikirkan prasyarat pendukung kenyamanan dan keamanan di lapangan,” jelas Teddy,  yang juga pasar modal yang lama bekerja di Hongkong, Singapura, dan Bangkok.

Teddy mengutip aturan di Singapura, di mana skuter listrik dilarang digunakan di jalan utama dan trotoar oleh Otoritas Transportasi Darat. Hanya boleh di jalur sepeda danjaringan rute yang menghubungkan taman-taman. Di Perancis, parkir di trotoar saja tidak dibolehkan.

Sedangkan di Inggris, skuter listrik dianggap illegal bila beroperasi di jalan dan trotoar. Hanya boleh digunakan di taman pribadi. Sementara, praktisi hukum Ori Rahman SH menyebutkan, masyarakat harus belajar dari pengalaman korban kecelakaan, melakukan introspeksi terhadap kemungkinan kelaiaian korban pengguna jasa skuter listrik.

“Sebuah kecelakaan terjadi, pasti sebab dan akibat. Bukan kesalahan tunggal. Dalamhal ini, regulator juga harus introspeksi terhadap tata aturan yang diterapkan. Begitu juga penyedia jasa seperti Grabwheels, mereka haru sikut bertanggungjawab dan menyediakan dana Corporate Social Responsibility [CSR]  terhadap kemungkinan ekses dari bisnis yang dijalankan,” tukas Ori Rahman, Ketua Komisi untuk Orang Hilang [KontraS] tahun 2001-2003.

Ori Rahman menambahkan, bisnis jasa skuter listrik baru tumbuh di Jakarta dan penggunanya generasi milenial. “Pengguna jasa ini harus mawas diri terhadap risiko bermain di jalan raya. Kita kan sangat paham bagaimana ruwetnya jalan raya di Jakarta,” tukas Ori.

Kadang kala untuk menyeberang jalan saja, menurut Ori Rahman kita harus bersusah-payah, dulu baru dikasih jalan oleh pengendara mobil. Bagaimana pula ceritanya bila kita bermain-main skuter listrikber kelompok di jalan raya, pasti membahayakan pihak lain juga,” tutur Ori Rahman, advokat yang juga pernah aktif di LBH Lembaga Bantuan Hukum [LBH] Jakarta tahun 1996-1997.

Seperti diberitakan berbagai media, kecelakaan terhadap pengguna jassa skuter listrik Minggu [10/11/2019] dinihari lalu, menewaskan Ammar Nawar Tridarma [18] dan Wisnu Chandra Gunawan [18], sedangkan Bagus mengalami luka-luka. Keluarga tersangka bertanggungjawab dengan membawa korban ke rumahsakit dan membantu biaya perawatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini