Teja Purnama & Jusuf Kalla. Foto Istimewa

Intipnews.com:KETIKA ujian datang dari-Nya siapapun yang masuk kedalam, tidak akan luput dari bencana, sebagaimana virus corona. Menciptakan kepedihan, ketakutan, saat kematian di ujung mata.

Lalu, bagaimana corona di mata intelektual dan pujangga saat menorehkan kegelisahan batin kehadiran corona, di bait kata-kata yang tidak sekadar alpabetis. Penyair Kota Medan Teja Purnama menuliskan dengan judul PAGI LAGI. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ikut berpuisi dengan judul CORONA VIRUS.

Sastrawan Marhalim Zaini, alumni IAIN [kini UIN] Imam Bonjol Padang, S umatera Utaramenulis puisi “SIAPAKAH ENGKAU CORONA”. Puisi As Atmadi berjudul DITERKAM CORONA. Ditutup oleh maestro penyair sufi Jalaluddin Rumi. Puisinya semangat di kala hati dan jiwa tertimpa kesulitan. Dalam sebuah kontemplasi, sesungguhnya peristiwa ini mematangkan jiwa kita, manusia. Simaklah.

Teja Purnama

PAGI LAGI

Pagi lagi

Pagi lagi pandemi belum pergi

Tagihan datang lagi

Berapa mati hari ini?

Pagi lagi

Dapur masih tidur

Wajah kehilangan wajah

Minyak makan entah mana

Pagi lagi

Di rumah saja, katanya

Ke luar pun mau apa?

Pagi lagi

“Apakah pegadaian mencintai puisi?”

tanya perempuan pada lakinya

yang berhari-hari tersesat

di bait keempat

Pagi lagi

Ambulans terjungkal ke Sungai Deli

Sirene terus menyala, meraung-raung

sampai pagi lagi

sampai pagi-pagi

yang lain

Pagi lagi

Harapan?

Lagi

[2020]

Jusuf Kalla

CORONA VIRUS

Semua bermula dari Wuhan

Menyebar ke mana-mana tanpa pemberitahuan

Melampaui batas Negara dan Jabatan

Memapar segala Bangsa tanpa ampun

Di Korea menyebar data tempat Peribadatan

Melanda Qom, tempat suci Syiah di Iran

Di ltalia merebak di Kota mode Milan

Di Negeri ini diawali di tempat Hiburan

Hari-hari ini penuh dengan kekhawatiran

Dimana doa terbaik sudah dipanjatkan

Bekerja, belajar, dan ibadah sudah dirumahkan

Menunggu nasib baik penuh harapan

Ya Tuhan, berilah kepada para ahli, kemampuan

Untuk menemukan yang dicari, obat dan vaksin Sebagaimana janji-Mu, semua penyakit ada obatnya

Agar kami dapat beribadah lagi di Masjid dengan gembira

Kepada Bangsa, bersatu dengan penuh semangat

Semua dapat membantu sesuai kemampuan

Bagi yang Ahli membantu yang Sakit

Bagi yang mampu membantu yang rentan

Kepada para Dokter dan Perawat, terima kasih atas ketulusan

Dan atas upaya yang penuh risiko dan pengorbanan Kepada para Relawan, terima kasih atas Pengabdian

Akhirnya kepada Allah jualah kami memohon

As Atmadi

As Atmadi

DITERKAM CORONA

Menggigil, tuk kematian terburuk diterkam corona, tanpa kata, badan kehilangan dada. Apa pun dibungkus sunyi menuju samudera keabadian

Tak ada lagi penderitaan dan pedih diukur setakat duniawi. Virus corona perantara, bukan apa-apa dari cinta-MU

[Agustus 2020]

 

Marhalim Zaini

Marhalim Zaini

SIAPAKAH ENGKAU CORONA

Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar, kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak mampu untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.

Siapakah engkau, Corona Engkau datang seperti bala tentara dalam operasi senyap. Menembaki ribuan orang di seluruh dunia dengan peluru kecemasan, padahal kami hanya orang biasa yang tak punya senjata, yang selalu percaya bahwa perang hanya untuk para tentara.

Siapakah engkau, corona? Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri

Dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa yang setiap saat kami rapalkan.

Kami punya iman yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.

Tapi siapakah engkau, Corona.

Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut, yang menyerang saat kami buta. Saat kami kerap lalai menyalakan api iman dalam dada. Saat kami terlalu bahagia dengan gemerlap dunia, dan lupa pada dosa-dosa

Corona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli. Karena hari ini, kami sedang berdiam dalam diri, mencari tahu, siapakah kami sesungguhnya dalam tubuh yang fana.

[2020]
Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

WUJUD MANUSIA ADALaH RUMAH

Setiap pagi tamu baru

Kegembiraan, kesumpekan, kekejaman

Kadang kesadaran-kesadaran sesaat tiba sebagai tamu kejutan

Sambut dan jamu semua

Bahkan jika itu tumpukan kesedihan,

Yang ganas sapu semua perkakas rumahmu

Boleh jadi ia bersihkan dirimu demi pesona baru

Kesumpekan, rasa malu, kelicikan

Songsong di pintu dengan tawa

Ajak masuk

Syukuri apa saja yang datang

Karena semua diutus

Sebagai pandu dari sana.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini