Alamarhum Teaterawan dan Penyair WS Rendra

BULAN ini adalah Bulan Bahasa dan Sastra, Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Berikut kami tampilkan sebagian puisi-puisi karya penyair yang kami himpun dari berbagai sumber,.Ini secuil dari puisi terbilang sangat banyak jumlahnya mengisi perjalanan dunia. Sesungguhnya makna di balik karya puisi. lebih luas dari seluruh lautan. Simaklah untuk sebuah esensi kontemplasi.

Sitor Situmorang:
Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari

Sederhana dan murni
Impian remaja
Hikmah kehidupan
berNusa
berBangsa
berBahasa
Kewajaran napas
dan degub jantung
Keserasian beralam
dan bertujuan
Lama didambakan
menjadi kenyataan
wajar, bebas
seperti embun
seperti sinar matahari
menerangi bumi
di hari pagi
Kemanusiaan
Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945

Chairil Anwar:
Diponegoro

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas.
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang Terjang

Tantawi Panggabean:
Petuah Pengumpul Sampah Pada Anaknya

Nak…..jika kau telah dewasa nanti jadilah arus air yang terus menerus mengalir….saat mentari soroti bumi gerakkan sendimu jauhkan duka di pelupuk mata

Tatap gelombang hidup dengan senyum di sela sela keringnya ludah pagi

Yah…….jika aku dengar petuahmu kutatap
rongga tubuhku nan tertutup daki lengket
di sekujur tubuh tinggal rangka berbalut kulit mangkrak ini

Seandainya jari jari berkuku hitam berbicara mampukah ukuran sepatu membalut kaki ku yang kapalan bak bebatuan bercampur pasir lengket direkat peluh.

Nak……..hidup adalah asa yang beranjak secara cepat maupun lambat nasib juga
Penentu vital di jalan hidup ke depan.

Yah………onggokan kertas karton berbaur botol plastik, karatnya besi-besi tua bukanlah halangan mengejar mimpi…………..tapi aroma kehidupan seakan tersumbat di pori
pori yang menganga bersebab keringat nan tiada henti setiap hari.

Nak………hidup adalah nyata bila kita telah tercipta tiada kata lain untuk sesal berkepanjangan…hanya jalani dengan tawaqal …….mungkin juga asa akan ada petuah bukannya titah dan perintah namun hempasan cemeti lembut ke sanubarimu

Pergilah mandi di selokan itu walau tak bersih ragamu tapi suci hatimu …………shalat magrib jangan terlupaAkh apakah petuahku tertanam di batin anakku selaras rembang petang menuju senja nan akan kelam…

Yuliani Megantari:
Kebencian Mendalam

Kisah tentang para pejuang yang mati
Kisah para pejuang yang melawan
Membekas di dalam hati
Membangkitkan semangat juang

Cinta pada negeri
Itulah landasannya
Kau sebagai pahlawan yang terbuang
Di negeri ini aku menyapamu

Kau terbuang di pengasingan
Seorang pejuang yang terasingkan
Dalam derunya kemerdekaan
Saudaraku

Aku menyapa penuh cinta
Aku menyapamu penuh dekapan
Aku menyapamu penuh semangat

Semangat juang yang tak pernah usai

WS Rendra:
Gumamku ya Allah
Angin dan langit dalam diriku,
gelap dan terang di alam raya,
arah dan kiblat di ruang dan waktu,
memesona rasa duga dan kira,
adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!

Serambut atau berlaksa hasta
entah apa bedanya dalam penasaran pengertian.

Musafir-musafir yang senantiasa mengembara
Umat manusia tak ada yang juara
Api rindu pada-Mu menyala di puncak yang sepi. Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu
Agama adalah kemah para pengembara
Menggema beragam doa dan puja
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda

As Atmadi:
Kukenali Sepi

Kukenali sepi di antara hidup di bumi merinding bersama nafasmu, meraup hari-hari di cakrawala

Kukenali sepi di antara cinta melumuri nestapa jadi bulan singgah di kehidupan birahi, bergetar di ujung dunia sampai maut berlutut denganMu

Kukenali sepi dari segala deburan kenikmatan yang terkumpul diurai demi urai, adalah suatu peringatan bumi akan berhenti beraksi di mata-Mu ku dan Tuhan

[Oktober 2020]

Sutardji Calzoum Bachri:
Jadi

tidak setiap derita
jadi luka
tidak setiap sepi
jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap makna
jadi ragu
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap jangan
jadi pegang
tidak setiap kabar
jadi tahu
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau pada wajahku

Sapardi Djoko Damono:
Atas Kemerdekaan

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Sudarto Bachtiar:
Malam Laut

Karena laut tak pernah takluk, lautlah aku
Karena laut tak pernah dusta, lautlah aku
Terlalu hampir tetapi terlalu sepi
Tertangkap sekali terlepas kembali
Ah malam, gumpalan cahaya yang selalu berubah warna beginilah jika mimpi menimpa harapan banci

Tak kusangka serupa dara
Sehabis mencium bias mendera
Karena laut tak pernah takluk, mereka tak tahu aku di mana

Karena laut tak pernah dusta, ku tak tahu cintaku di mana
Terlalu hampir tetapi terlalu sepi tertangkap sekali terlepas kembali

Kahlil Gibran:
Cinta yang Agung

Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya…
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu..
Apabila cinta tidak berhasil…Bebaskan dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..

Tapi..ketika cinta itu mati..kamu tidak perlu mati bersamanya Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh

Jalaludin Rumi

Cinta:Lautan Tak Bertepi

Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku. Bila bukan karena Cinta, bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh [hewani]?
Bagaimana ruh [hewani] akan mengorbankan diri demi nafas [Ruh] yang menghamili Maryam?

Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju. Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna, Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah lagu pujian Keagungan pada Tuhan.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini