“Masuk Barang Tu!”

0
123
Teddy Mihelde Yamin. Foto Istimewa

CATATAN TEDDY MIHELDE YAMIN *

Setelah hampir 2 minggu berlalu teguran Presiden ke jajarannya, apakah ada perubahan? Apakah ada efek dari marah-marah terbuka Presiden yang digoreng media dalam beberapa hari ini?

 Intipnews.com:MASIH Masih ingat Almarhum Sutan Bhatoegana politikus Partai Demokrat asal Sumatera Utara [Sumut], yang sering berbicara di banyak ‘Talk Show’ dengan gayanya yang santai dan kocak mengunakan kalimat, “masuk barang tuh!”

Kini setelah sekian tahun berlalu, sosok yang mempopularkan kalimat tersebut di tingkat nasional juga telah berpulang, rasanya cocok kalau kalimat itu digunakan lagi. Bagaimana tidak, dengan keriuhan dan ketegangan RUU  Haluan Ideologi Pancasila [RUU HIP] yang mengakibatkan penolakan massal ummat Islam.

Ditandai dengan  penolakan  ormas Islam terbesar seperti MUI, NU, Muhammadyah dan lainnya di berbagai daerah dan  disusul saling melaporkan, berikut balasan dari kader partai berkuasa saat ini di beberapa daerah. Tentu  efeknya eskalasi politik nasional meningkat drastis dan membahayakan kestabilan nasional.

Mengingat kader partai  banteng bermoncong putih ini tersebar luas di berbagai daerah.  Begitu juga dengan ormas Islam yang juga tersebar di perbagai penjuru. Dikhatir jika tak terkendali dan dialihkan perhatian rakyat kepada issu yang lebih besar, maka akan berdampak luas.

Berhadap-hadapannya kelompok Islam dengan kader partai PDI Perjuangan di akar rumput. Partai dimana Presiden Jokowi ada di dalamnya. Sekalipun istana sibuk menangkis keterlibatannya dan diberitakan telah mengembalikan bola panasnya ke DPR RI sebagai inisiator.

Jadi jika tiba-tiba muncul rekaman lama bahkan kadaluarsa Presiden Jokowi yang sedang marah-marah kepada jajaran Kabinet Kementerian dan Lembaga negara, kok saya melihat dari sisi yang berbeda. Ini bukan  sesuatu yang  tidak dipertimbangkan betul momennya. Tetapi sesuatu yang direncanakan untuk  maksud dan suatu tujuan, meredam  suatu masalah yang lebih besar, agar “masuk barang tu!”

Ternyata benar. Tak menunggu waktu lama, sesaat setelah di-upload  oleh akun Youtube Sekretariat  Presiden, Pidato Jokowi pada Ahad sore (28/6), kejadian kadaluarsa yang sebenarnya berlangsung pada hari Kamis (18/6).

Tak menungglu waktu lama pula, sekalipun cerita basi, ada jeda waktu 10 hari, tetapi ketika diucapkan oleh Presiden di hari Minggu yang di kalangan jurnalis biasanya sepi berita, spontan  disambut gempita dan langsung viral, ditonton jutaan netizen.

Jika kita review sampai di sini, Biro Pers Istana Kepresidenan tampaknya telah berhasil menguasai pemberitaan, mengambil alih berita tentang penolakan masif RUU HIP yang panas dan sensitif itu. Penolakan yang menjalar di berbagai daerah dan  diberitakan di berbagai media mainstream nasional dan linimasa sosial media, belakangan dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan yang semakin tak terbendung.

Sementara mengenai topik yang dikeluhkan dan cara yang dilakukan Presiden dengan melontarkan kekesalannya sekaligus marah-marah di hadapan sidang kabinet dan Lembaga Negara sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru.

Bukan juga sesuatu yang istimewa, terlebih ini cerita lama yang bukan rahasia lagi jika Jajaran Kementerian yang mendukung kerja Presiden sejak zaman dahulu juga lelet. Begitulah birokrasi di Republik ini bekerja. Masalahnya saat ini ada situasi Covid 19 yang harus segera ditangani sedangkan segala perangkat UU juga sudah disiapkan.

Tetapi jika memang tak bergerak cepat, justru perlu dicari sebab lain salahnya dimana. Bukankah sebagian jajaran Kabinet ini bukanlah orang baru di pemerintahan? Tidak berarti banyak juga bagi publik luapan amarah Presiden tersebut.

Setelah hampir 2 minggu berlalu teguran Presiden ke jajarannya, apakah ada perubahan? Apakah ada efek dari marah-marah terbuka Presiden yang digoreng media dalam beberapa hari ini? Sampai di sini, terlihat Presiden Jokowi seorang yang terlihat berani mengorbankan diri dan jajarannya.

Tetapi sebaiknya kita tidak mudah juga terbius dengan siasat yang dikemas Biro Kepresidenanan. Demi suatu tujuan yang lebih penting, “masuk barang tu!” nggak ada salahnya memgumbar aib sendiri.

*Penulis, adalah aktivis Studi Cikini Jakarta

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini