Dr dr Umar Zein

OLEH UMAR ZEIN *

Senar biola alunkan irama

Dawai melodi menari-nari

Benar dan dusta menyebar sama

Bagai duri basmi pandemi

Masih ada masyarakat tidak percaya adanya virus corona. Dokter pun ada yang menebut, “Ah, tak ada itu corona-corona. Semua kematian sudah tercatat di Laul Mahfuz. Tak perlu takut kita.” Lalu…

Intipnews.com:DEMIKIAN aritikel ini dibuka dengan pantun untuk pantu, agar mendekatkan ke tema artikel ini. Ketika saya menjadi narasumber di suatu acara tanggal 28 Juli 2020, dengan topik Pencegahan Penularan Covid 19 di desa, seorang peserta memberikan pendapatnya:

“Maaf, Pak. Sampai sekarang saya tidak percaya adanya virus Corona ini. Berita dan fakta yang saya lihat di media, semua tidak transparan dan membingungkan. Apalagi tentang kematian pasien, semua dikatakan akibat Covid, tetapi buktinya selalu disembunyikan. Jadi, sekali lagi, saya tidak percaya!”

Kemudian, ia mengutip sebuah ayat Al Quran, saya lupa surah dan ayatnya, yang maksudnya kira-kira begini: “Allah tidak menurunkan penyakit kepada manusia, kecuali menyediakan juga obatnya.”

Saya tidak heran, apalagi terkejut dengan pernyataan bapak itu. Karena, bukan hanya dia yang beranggapan seperti itu. Banyak masyarakat yang sependapat dengannya. Bahkan, teman saya seorang dokter, pernah berkata: “Ah, tak ada itu corona-corona. Semua kematian sudah tercatat di Laul Mahfuz. Tak perlu takut kita. Semua itu takkan terjadi tanpa izin Allah.”

Ilustrasi. Virus Corona. Foto Istimewa

Saya tidak mampu membantah kedua pendapat tersebut. Karena, sejarah kelam perkembangan ilmu dan teknologi di dunia ini sudah banyak dituliskan para pakar. Saya masih ingat cerita seorang ilmuan pada zamannya, Galileo Galilei [1564  -1642], Astronom dan Fisikawan Italia dihukum oleh pemerintah negaranya hingga ia meninggal.

Sumber lain mengatakan ia dibakar hidup-hidup oleh komunitasnya di Eropah sana, karena ia mengatakan, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Suatu teori baru yang mengejutkan masyarakat dan pemimpinnya. Karena jauh sebelumnya, mereka meyakini, bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi.

Berganti abad, barulah diakui bahwa Galileo benar dengan teorinya hingga saat ini. Demikian juga sejarah penyakit Lepra atau Kusta, dulu dianggap sebagai penyakit akibat kutukan Tuhan, sehingga pengidapnya harus diasingkan jauh-jauh dari masyarakat.

Berabad juga baru orang percaya bahwa Kusta disebabkan oleh sejenis kuman, setelah ditemukan dan diberi nama Mycobacterium leprae, yang sejenis dengan Mycobacterium tuberculosis, penyebab Tuberkulosis.

Di mana salahnya?

Pada awal pandemi di Kota Wuhan, Cina Desember 2019 hingga Januari 2020, banyak pejabat kita yang belum percaya virus Corona bisa masuk ke Indonesia. Bahkan, ada yang membuat pernyataan terkesan buat lucu-lucuan.

Kalau ditanya, di mana salahnya, menurut saya, salah pada persepsi dan pola pikir terhadap informasi yang diterima. Juga, pesat dan derasnya informasi hoax di media dunia, ditambah kegemaran masyarakat kita meneruskan info yang diterima, seakan-akan kitalah orang pertama menerima info itu.

Betapa sulitnya meredam info dusta, sama sulitnya dengan meyakinkan info benar. Kecanggihan aplikasi komputer, menjadikan info bohong bisa dibuat seolah-olah ilmiah.

Saat ini, semua orang bisa dan bebas membuat cerita, berita di media, utamanya di media sosial. Setiap orang boleh tampil laksana pakar di bidang tertentu, bahkan bisa seseorang pakar berbicara lantang dan percaya diri tentang hal-hal di luar kompetensinya.

Tidak ada regulasi yang mampu mencegahnya. Hanya ujaran kebencian dan penistaan yang dapat dijerat pidana. Itupun tidak semua. Oleh sebab itu, selagi bangsa ini masih diliputi dengan berita tak pasti, maka pandemi ini tak dapat diprediksi kapan berhenti.

*Penulis adalah, Pemerhati Kesehatan dan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara.

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini