Mengenang Pahlawanku My Hubby

201
Mengenang Pahlawanku My Hubby

Penulis: Roni Neliati

Atmadi anak tak mau diam, itulah yang sering diucapkannya. Memang My Hubby itu tidak mau diam sedikitpun, pahlawan yang tidak pernah mengeluh capek (letih/lelah). Dia selalu menunjukkan dirinya tegar dan tersenyum di hadapan istri, anak dan semua orang.

DI balik senyumannya, dia seorang yang tegas tidak pandang bulu. Namun di balik  ketegasannya itu, ada kelembutan di hatinya. Selama bersama dengannya, tak pernah sekali pun keluar kata sayang dan cinta dari bibirnya. Rasa sayang dan cinta itu diungkapkannya melalui perbuatan dengan memberikan apa yang kita inginkan. “Ini untukmu,” kata My Hubby sambil tersenyum dengan tatapan penuh kasih dan cinta.

Pahlawanku My Hubby ini sosok pekerja keras dan sangat maniak jika sedang bekerja. Selain dunia jurnalistik yang telah menjadi darah dan nyawa dalam hidupnya, pahlawanku juga menjadikan dunia seni sebagai tempat menyalurkan ekspresi, pemikiran serta protes atas ketidaksesuaian yang terjadi dalam hidup ini

My Hubby selalu berpikir jauh sebelum orang lain berpikir. Itu sebabnya setiap kali mengambil keputusan, pahlawanku selalu berhati-hati dan penuh evaluasi. Cara berpikirnya yang keras dan melebihi ambang batas normal orang berpikir, membuat pahlawanku terserang stroke di tahun 2015. Begitu pun pahlawanku tidak menyerah, ia berupaya bangkit. Kegigihan, kekuatan dan semangat yang tinggi serta dorongan keluarga kecilnya, Alhamdulillah My Hubby akhirnya sembuh.

| BACA JUGA: Mengenang 40 Hari Wafatnya As Atmadi, Seniman Sumut Gelar ‘Doa Untuk Sang Guru’

Namun saat itu My Hubby sempat minder dan tidak mau bertemu dengan siapa pun. Pahlawanku merasa sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Apalagi perusahaan yang telah dibesarkannya, memutuskan hubungan kerja karena menilai My Hubby tidak produktif lagi. Support dan dorongan dari keluarga kecil terus diberikan, kami meyakinkan bahwa sang My Hubby bisa bangkit dan menghasilkan kembali karya-karya jurnalistik maupun seni.