Tangsel-Intipnews.com:Perkumpulan Pengolah Limbah dan Sampah [Pelsim] Mandiri melakukan sosialisasi hukum di Parigi, Tangerang Selatan [Tangsel], Banten, Minggu 27 September 2020. Kegiatan ini sebagai pembekalan bagi pemulung agar mereka terhindar dari masalah hukum seperti pemerasan atau masalah kriminalitas [foto].

Langkah Pelsim Mandiri ini dilakukan tanpa pamrih dengan swadaya pengurus. Organisasi kemasyarakatan ini fokus untuk melakukan advokasi masyarakat bawah, yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung.

Selama ini Pelsim hadir untuk pemulung dan pengolah sampah. Pelsim tidak ingin pemulung dan pengolah sampah terjerat hukum karena pemahaman yang minim. Kegiatan dengan tema Kenali Hukum Jauhi Hukuman ini, memberikan materi yang terkait dengan pidana penadah, pencurian, memasuki lahan orang tanpa izin. Yaitu pasal 480 KUHP tentang penadah, pasal 362 tentang pencurian, dan pasal 167 tentang memasuki pekarangan orang tanpa izin.

“Pemulung dan pengolah sampah perlu memahami aspek hukum, supaya mereka terhindar dari kesalahan yang dapat membuat hidup mereka menjadi susah,” kata Sekjen Pelsim Mandiri, Rudy Wakono.

Sosialisasi hukum ini yang kedua kali, setelah Agustus lalu di Ciledug. Pelsim kembali melakukan kegiatan serupa di Tangerang Selatan, menggandeng penyuluh dari Kemenkumham.

Suasana saat para narasumber menjelaskan tentang pelanggaran huku.

“Kita kembali melakukan sosialisasi hukum untuk komunitas pemulung di Pondok Aren, temanya tetap sama yaitu Kenali Hukum dan Jauhi Hukuman,” kata Ketua Umum Pelsim, Benget Manahan Simbolon.

Dalam acara tersebut, Pelsim menggandeng pejabat dari Kantor Kementerian Hukum dan HAM dan Polsek Pondok Aren. Upaya sosialisasi dengan peragaan oleh penyuluh hukum Tri Puji Rahayu, Elizabet Andriayana, Sabar Panggabean dan Syarif dari Kemenkumham. Turut serta memberi pemahaman kepada pemulung, Bripka Duwi S dari Polsek Pondok Aren.

Pada kesempatan itu, para pemulung dan pengolah sampah mendapat penyuluhan pasal 480, 362 dan 167 KUHP. “Materi pembekalan yang kami sampaikan memang terkait dengan pasal di KUHP tersebut. Sebab, pengetahuan atau pemahaman pemulung yang minim terhadap kriminalitas, membuat mereka jadi bulan-bulanan ketika terjadi pelanggaran hokum,” ungkap Benget.

Lanjutnya, mereka pun sering kali menjadi korban pemerasan ketika misalnya ada pemulung ketahuan berbuat kejahatan. Padahal itu dilakukan karena pemulung tidak paham dengan kedudukan hukum.

Pelsim kata Benget, menyadari pentingnya pemahaman masalah hukum ini. Supaya tidak jadi obyek pemerasan karena kebodohan mereka. Pemulung rentan dengan kemiskinan, begitu pula dengan kejahatan.

“Perhatian pada pemulung selama ini tidak cukup,” ujar Banget, seraya menambahkan, Pelsim akan terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan hukum kepada pemulung supaya mereka paham dengan kerawanan yang mengancam hidupnya. Kegiatan Pelsim Mandiri ini mendapat dukungan dari agen pengumpul dana bantuan Benihbaik dengan bantuan masker. * Itp-17

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini