Pemko Medan Tak Lagi Hargai Lansia

172
Wadhuh! Pemko Medan
Wadhuh! Pemko Medan tak hargai Lansia. Jaya Arjuna

MedanIntipnews.com:Wadhuh! Pemko Medan tak lagi hargai Lansia. Hal ini muncul dari Pengamat Perkotaaan Jaya Arjuna terkait Walikota Medan, Bobby Nasution menandatangani [meneken] Peraturan Walikota [Perwal] Medan No 17/2021.

Perwal Pemko Medan itu aturan tentang batas maksimal usia penerima bantuan jasa pelayanan masyarakat adalah 60 tahun. Artinya warga lansia di atas 60 tahun tidak lagi diperkenankan menerima bantuan dari Pemko Medan.

Wadhuh! Pemko Medan tak lagi menghargai Lansia, penerima dana jasa pelayanan masyarakat dari Pemko Medan yang selama ini, adalah bilal mayat, imam masjid, penggali kubur, rumah ibadah, guru magrib mengaji, pengurus rumah ibadah, guru sekolah minggu, guru sekolah hindu, guru sekolah Budha, dan guru sekolah Kong Hu Chu, batasnya 60 tahun saja.

“Walikota Abdillah dulu tidak membatasi umur untuk penerima jasa pelayanan masyarakat seperti bilal mayat, imam masjid dan seterusnya. Abdillah membuat peraturan ini untuk membantu orangtua dengan profesi itu hingga 60 tahun ke atas, karena memang itu bukan kerja orang muda,” ujar Jaya Arjuna.

Kalau di Malaysia, ujarnya, lanjut usia [Lansia] itu warga emas, uang kuliah mendapat potongan lebih tinggi, diberi fasilitas kesehatan dan semua diperhatikan. Di Surabaya, Yogyakarta dan Depok warga-warga di atas 60 tahun dihargai, diberi bantuan. Anehnya di Medan usia 60 ke atas [Lansia] tak bisa dapat bantuan.

Pak tua 77 tahun masih mengajar mengaji. Foto Istimewa

Menurut Jaya, “Kita juga tak tahu kenapa muncul ide seperti itu, apa dasar pemikirannya sehingga bertentangan dengan daerah-daerah dan Negara-negara lain yang menghormati dan menghargai Lansia.”

Di jepang orangtua di atas 60 tahun sangat dihargai, transportasi gratis. “Tetapi kenapa Bobby tidak menghargai Lansia di atas 60 tahun. Padahal hampir semua bilal mayat, guru mengaji, pembersih kuburan dan lainnya di atas 60 tahun,” ucap Jaya Arjuna menanggapi tentang Perwal Medan No 17/2021.

Kalau di Penang Malaysia, cerita Jaya pula, yang berjualan di supermarket itu sudah tua-tua. Bukan anak gadis pakai rok pendek. Ini merupakan pemberian penghargaan untuk kaum tua. Penghormatan dan pemberdayaan hidupnya.

“Dengan cara itu membuatnya lebih sehat dan dapat memperpanjang usianya. Apa yang dilakukan Negara seperti itu, kita pun sebagai anak muda memberi penghormatan kepada orangtua, dengan ini kan nilai meta fisiknya tinggi,” tutur Jaya.

Makanya menurut Jaya Arjuna, etnis Tionghoa sangat menghormati orangtua, juga etnis Batak menghormati betul orangtua, begitu juga etnis lainnya. “Membuat Perwal itu bukan mudah. Tidak mungkin Bobby Nasution berfikir sendiri. Dia harus membuat tim, harus ada orang yang menguji kelayakan hukumnya, sehingga tidak melanggar norma-norma yang berlaku.

“Ternyata keputusan itu menjadi tidak berlaku umum dengan norma-norma yang ada di Indonesia. Di Malaysia itu Mahatir Muhammad paling marah kalau ada anak muda duduk di pintu tol. Menjual tiket tol, yang tidak menggunakan fisik, bukan kerja anak muda, itu kerja orangtua.

Itp-17