Penyimpangan Pengendalian Covid 19 Tingkatkan Virus Corona

7
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. Foto Istimewa

JakartaIntipnews.com:Penyimpangan yang terjadi dalam pengendalian Covid 19 bukan hanya menghambat, tetapi juga berpotensi meningkatkan kembali penyebaran virus corona di Tanah Air. Demikian ungkap Lestari Moerdijat.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Minggu [23/5], penyalahgunaan wewenang dari para pelaksana pengendalian Covid 19 dari mulai aspek testing, tracing, treatments, distribusi vaksin, penggunaan alat testing Covid 19 bekas dan vaksin ilegal yang diperdagangkan, berpotensi meningkatkan kembali penyebaran virus corona di Tanah Air.

“Tata kelola pengendalian Covid 19 harus diawasi secara ketat, pendataan hingga pemilihan para petugas pelaksananya,” tegas Lestari Moerdijat, sebagaimana dilansir Teropongsenayan.

Lestari prihatin dengan munculnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang yang memanfaatkan upaya pengendalian Covid 19 untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Di tengah sebagian masyarakat masih mempertanyakan kebenaran adanya virus corona dan mulai jenuh, Rerie mengatakan, penggunaan alat test Covid 19 daur ulang menambah jumlah orang yang ragu terhadap virus corona.

Dampak serupa, tambah anggota Majelis Tinggi Partai Nasdem ini, juga tercipta dari terkuaknya jual beli vaksin ilegal, yang memberi kesan para pemangku kepentingan kurang serius dalam penanganan pengendalian Covid 19.

Para pemangku kepentingan, tegas Rerie, harus benar-benar taat terhadap regulasi yang ditetapkan dalam tata kelola pengendalian Covid 19, termasuk dalam hal testing dan tahapan vaksinasi nasional.


Apalagi, ujarnya, dari 181,55 juta target vaksinasi per Sabtu [22/5] jumlah orang yang mendapat vaksin Covid 19 lengkap baru 9,82 juta orang atau baru 5,40% dari target.

Demikian pula dengan tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan [Prokes]. Data Satgas Covid 19 pada pekan lalu menyebutkan tingkat kepatuhan masyarakat di sejumlah daerah menjalankan Prokes di tempat wisata terbilang rendah.


Sebagai contoh di DKI Jakarta, Bangka Belitung, Riau dan Sumatera Selatan yang masing-masing angka kepatuhan prokesnya 27%, 33%, 58%, dan 62%.


Rerie berharap, dengan pencapain sejumlah target yang terbilang rendah itu, upaya pengawasan, disiplin dan pelaksanaan pengendalian Covid 19 harus terus ditingkatkan untuk mencegah potensi ancaman baru, sehingga pencapaian sejumlah target dalam pengendalian sesuai dengan rencana.