Puisi Tantawi Panggabean: Ketika Puncak Bukit Mulai Melenguh

0
241
Tantawi Panggabean membacakan puisi-puisinya

Puisi Tantawi Panggabean

Ketika Puncak Bukit Mulai Melenguh

Semilir angin menyentuh kulit bumi berlumut, bayu terhempas di dinding bukit Riung Raung menggema menggeram hiruk pikuk bersahut
Nanar tatapan mata kebisuan seketika mencekamLekuk gemulai pepohonan tua menantang angin bercengkrama tak hirau gemerutuk batang tua nan rapuh menjilat daun kering Batu cadas basah jenuh menahan beban
Puncak menua lelah lenguhan caldera perlahan menepis bukit yang dulu indah renta termakan waktu terus merambat putaran mayapada era demi eraPuncak bukitku letih tertatih, puncak bukitku tersengal entah ke mana kusandarkan


Puisi WS Rendra
Nota Bene: Aku Kangen

Lunglai-ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978

Ini puisi pendek tentang cinta, tanpa judul tanpa nama, tapi ada di mana-mana,di sumber titikdua.net

Jika rindumu tak lagi jadi milikku. Lantas, apalagi alasanku kembali ke kota ini?

Ada jarak yang terbentang karena rindu
Ada cerita yang terbuat karena jarak
Aku percaya, ceritamu dan ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu.

Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat.

Cinta bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Cinta juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga
Ah, biarlah …
Cinta tak butuh kata-kata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini