Remaja Korban Perkosaan Anak Oknum DPRD Bekasi Akan Dinikahkan, Lalu…

0
27
Remaja Korban Perkosaan
Ilustrasi. Foto Istimewa. Remaja korban perkosaan anak oknum DPRD Bekasi akan Dinikahkan

Intipnews.com:REMAJA korban perkosaan anak oknum DPRD Bekasi akan dinikahkan. Demikian kabar kabar terbaru dari kasus pemerkosaan anak di bawah umur [remaja] berinisial PU [15] oleh AT [21] yang sudah beristri, anak anggota DPRD Kota Bekasi.

Setelah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, AT malah berencana menikahi remaja korban perkosaan, PU [15], sebagaimana dilansir tirto.id, Minggu 30 Mei 2021. Kuasa hukum tersangka Bambang Sunaryo mengatakan, “Ajakan menikahi itu hanya keinginan yang tulus.”

Bambang menyebut alasan pelaku ingin menikah korban lantaran mereka berdua sudah berhubungan dan tinggal bersama sejak lama. Keduanya, klaim dia, juga saling sayang. “Tapi itu [menikah] kalau disetujui oleh korban dan orang tua, sekalipun proses hukum berjalan,” kata Bambang Kamis [27/5/21].

“Kalau keluarga [korban] tidak mau, tidak apa-apa.” Apabila kedua keluarga sepakat, Bambang akan mengajukan ke Pengadilan Agama agar PU diberikan dispensasi untuk menikah. Pasalnya PU masih di bawah umur, sementara berdasarkan Undang-undang No. 16/2019 tentang Perkawinan, usia minimal menikah itu 19 tahun.

Pelaku sebenarnya sudah punya istri. Namun Bambang mengatakan keduanya, “Sudah berpisah hampir setahun.” Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi menentang pernikahan ini.

Menurut Siti Aminah, “Pemaksaan perkawinan kepada penyintas kekerasan seksual. Pemaksaan perkawinan [forced marriage] dilarang dalam Konstitusi, UU HAM.”

Dijelaskannya, dan UU Perlindungan Anak, serta UU Perkawinan, dengan dasar bahwa setiap orang harus memasuki perkawinan berdasarkan pilihan bebas, serta orang tua dan negara berkewajiban mencegah terjadinya perkawinan anak.

Pemaksaan perkawinan, tandas Siti Aminah, dilarang dan dijadikan tindak pidana dalam Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual [RUU PKS].

Pernikahan seperti ini juga, “Menyebabkan korban mengalami trauma yang berkepanjangan karena membiarkan korban mengingat kembali peristiwa pemerkosaan dan mengalami pemerkosaan yang berulang.”

Lebih dari itu, ia juga khawatir cara ini akan dicontoh predator lain. “Itulah yang dimaksud dengan mengorbankan si korban dan juga membuat orang lain untuk melakukan hal yang sama,” kata dia Rabu [26/5/2021].

Ayah korban, D [42], mengatakan. “Hanya orang tua yang bodoh, dan telah menjadi korban menerima tawaran menikah di saat proses hukum sedang berjalan,” kepada reporter Tirto.