Dr dr Umar Zein

OLEH DR dr UMAR ZEIN

Di laman FB seorang dokter senior menulis:’Seorang dokter mengidap Covid butuh ruang ICU, tetapi penuh. Mari kita berdoa untuk kesembuhan sejawat kita’..

Intipnews.com:PADA tahun 1986, manakala saya bertugas sebagai dokter Puskesmas di sebuah kecamatan pada satu kabupaten, terjadi wabah kolera dengan gejala penyakit muntah dan mencret hingga puluhan kali dalam waktu beberapa jam.

Pasien dengan cepat mengalami dehidrasi berat dan harus diberikan cairan infus serta dirawat. Puskesmas saya harus menampung puluhan pasien untuk dirawat meski fasilitas tidak ada untuk rawat inap. Ketika saya harus ke Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten yang berjarak 90 km dari Puskesmas untuk meminta cairan Ringer laktat sebanyak 10 kardus, [1 kardus 40 botol].

Tetapi oleh Gudang Farmasi, saya hanya diberi satu kardus, dengan alasan permintaan saya terlalu berlebihan. Apapun penjelasan saya, tetap tidak diberikan, kecuali satu kardus. Tentu saja pemberian itu saya tolak, karena untuk satu pasien dewasa membutuhkan minimal 10 botol infus.

Mereka yang tidak paham kondisi lapangan merasa lebih tahu. Saya pulang ke Puskesmas, setelah terlebih dahulu singgah di apotek membeli 5 kardus Ringer laktat. Begitulah kondisi pemerintah negeri ini dalam menanggulangi masalah kesehatan hingga saat ini.

Sekitar pukul 10 malam sebuah ambulans dinas tiba di Puskesmas mengantarkan 10 kardus Ringer laktat. Langsung saya berkata: “Tanpa bantuan dari pemerintah, masyarakat saya mampu membeli Ringer laktat ini! Kalian bawa pulang obat pemerintah itu!” Mereka tak berani menjawab, dan tetap menurunkan bawaan mereka dengan ketakutan.

Nah, sekarang ini, rumah sakit di Medan sudah dipenuhi pasien Covid. ICU penuh, kamar penuh, walau yang sakit dokter, tidak dapat dilayani. Apakah dokter mengeluh? Saat ini tidak ada gunanya mengeluh, karena keluhan sudah disampaikan jauh-jauh hari ke gubernur dan walikota.

Tetapi pejabat tidak percaya prediksi para ahli tentang perjalanan wabah corona bila pencegahan tidak optimal dijalankan. Dokter dan paramedis berguguran, tetap tidak ada upaya mencari penyebab penularan, sepertinya negara tidak bertanggung jawab terhadap rakyat. Kasus terus bertambah! Korban sudah ada beberapa Kepala Daerah.

Kalau wabah kolera, hanya butuh cairan Ringer laktat dan tenaga dokter umum dan perawat dan bisa disembuhkan, tapi kalau Covid ini, obat yang efektif belum ditemukan, ruang ICU dan ventilator dibutuhkan, serta beberapa dokter spesialis.

Sekarang para dokter hanya mampu saling memberi info via medsos dengan doa, doa dan doa. Upaya nampaknya sudah kandas di gugus tugas. Jumlah klaster makin bertambah. Rumah Sakit, Kantor Pemerintah, dan kampus sudah jadi klaster Covid 19. Mungkin yang paling mudah saat ini adalah memperluas kuburan missal.

[Medan, 10 Agustus 2020]

*Penulis adalah, pemerhati Kesehatan dan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara [UISU].

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini