Semakin Terjepit, Rabu Depan Nelayan Demo Bupati Batu Bara …

0
168
Ketua Mantab Sawaludin Pane [tengah-baju biru] bersama nelayan tradisional

Persoalan yang merugikan masyarakat Batu Bara, pukat terlarang merajalela, tanah timbul dikapling oknum tertentu. Limbah diduga dari perusahaan mengakibatkan ikan mati…

Batu Bara-Intipnews.com:Sekitar 500 anggota Masyarakat Nelayan Tradisional Batu Bara [Mantab] akan demo [unjuk rasa] damai di kantor Bupati Batu Bara, DPRD dan Polres Batu Bara Rabu 18 Maret mendatang. “Kami akan desak  Ketua TBUPP Syaiful Syafri segera selesaikan permasalahan nelayan tradisional yang semakin terjepit. Juga berbagai masalah lain.

Pencarian semakin minim, karena pukat tarik sondong gerandong dan pukat terlarang lainnya semakin merajalela di perairan Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Persoalan nelayan tradisional Batu Bara ini semakin tak kunjung selesai.

Demikian disampaikan Ketua Mantab, Sawaluddin Pane kepada wartawan di Lima Puluh Batu Bara, Rabu 11 Maret 2020. Padahal, kata Sawal, Ketua Tim Bupati Untuk Percepatan Pembangunan [TBUPP] Syaiful Syafri pernah berjanji.

Janjinya akan menyelesaikan permasalahan pukat trawl dan sejenisnya, namun sangat disesalkan Sawaluddin, hingga kini janji tersebut hanya sebatas janji manis tanpa solusi untuk nelayan tradisional.

Selain permasalahan pukat trawl dan sejenisnya yang mengganggu mata pencarian nelayan tradisional, disebut Sawal ada dua permasalahan lain yang akan diutarakan pada aksi unjuk rasa damai nanti.

Masalah tanah timbul di Kecamatan Medang Deras yang diduga kuat telah dikapling oleh oknum tertentu, juga ditenggarai berpotensi mengurangi ikan di perairan Batu Bara. “Bakau [manggrove] akan habis di Tanah Timbul tersebut sehingga ikan dan habitat laut lainnya tidak dapat bersarang di tempat itu,” urai Sawal.

Karena itu lanjutnya, Mantab akan desak  Bupati dan Kapolres Batu Bara untuk segera menyelesaikan masalah Tanah Timbul di Medang Deras yang telah banyak diterbitkan surat kepemilikannya.

Dikatakan Sawal pula, permasalahan limbah yang diduga berasal dari perusahaan perusahaan di sekitar pantai mengakibatkan para nelayan kerap menemukan ikan mati di pantai Kecamatan Medang Deras.

“Karena itu kami juga akan desak Dinas Lingkungan Hidup agar bekerja dengan benar terkait masalah limbah perusahaan di sekitar Medang Deras.

Beberapa kali nelayan tradisional menemukan ikan-ikan mati di sekitar pantai yang diindikasikan tempat pembuangan limbah yang diduga dilakukan perusahaan-perusahaan pada waktu-waktu tertentu seperti malam hari,” ungkap Sawal.

* Laporan Muhammad Amin