Sinetron SHSZ Diprotes: Dinilai Kampanyekan Pedofilia

12
Sinetron SHS diprotes: Dinilai kampanyekan Pedofilia. KPAI Foto Istimewa

Intipnews.com:SINETRON Suara Hati Istri Zahra [SHIZ] yang tayang di Indosiar menuai protes. Dilaporkan warga ke KPI dinilai sebagai mengampanyekan pedofilia.

Sebagaimana di-publish media massa, salah satu poin aduan warga ke Komisi Penyiaran Indinesia [KPI], sinetron tersebut dinilai mengampanyekan pedofilia [orang mengidap gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap anak-anak].

Informasi dihimpun Intipnews.com, Kamis 3 Juni Mei 2021, menurut Wakil Ketua KPI Mulyo Hadi Purnomo, semua lembaga penyiaran harus tunduk terhadap Undang-Undang. “Yaitu Undang-Undang Penyiaran, serta undang undang lainnya. Termasuk Undang Undang Perkawinan,” tegas Mulyo Hadi.

Sinetron Suara Hati Istri Zahra dinilai oleh banyak pihak telah mempertontonkan dan mempromosikan pernikahan anak. Dipicu salah satu artisnya, Lea Chiarachel yang masih berusia 14 tahun dapat peran sebagai istri ketiga Tirta diperankan Panji Saputra [39] tahun di sinetron itu.

Salah satu episode, sebagaimana dilansir Suara.com, bahkan menggambarkan adegan di ranjang layaknya suami-istri. Komisi Perlindungan Anak Indonesia [KPAI] memastikan akan menindaklanjuti aduan masyarakat.

“Kami undang KPI, LSF dan Kementerian untuk membahas hal ini. Apalagi saat ini negara memiliki konsen besar untuk peningkatan kualitas perlindungan anak. Maka semua sektor termasuk lembaga penyiaran harus sejalan,” kata Ketua KPAI, Susanto Kamis 3 Juni 2021, dilansir Teropongsenayan.

KPI mengaku telah meminta keterangan pihak Indosiar terkait sinetron Suara Hati Istri Zahra. KPI menyatakan Indosiar akan segera mengganti pemeran berusia 14 tahun yang sebagai istri ketiga.

“Indosiar akan segera mengganti pemeran dalam 3 episode mendatang pada sine diperankan Panji Saputra, berusia 39 tahun di sinetron tersebut,” ujar Mulyo Hadi Purnomo, kepada wartawan, Rabu [2/6/2021].

Mulyo Hadi menjelaskan, tahap awal yang melakukan sensor untuk tayangan konten di sebuah program televisi adalah production house [PH] atau rumah produksi.

“Lalu televisi yang bersangkutan, kemudian Lembaga Sensor Film [LSF],” ungkapnya ke Kompas.com, Rabu [2/6]. Seharusnya, tukas Hadi, siaran televisi memperhatikan kepatutan konten di setiap program yang ditayangkan, terutama yang ditayangkan pada jam-jam anak menonton.