Strategi BI Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

0
15
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Foto Istimewa

JakartaIntipnews.com:Bank Indonesia [BI] berupaya keras dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Apalagi, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, nilai tukar rupiah nampak melemah dalam beberapa waktu.

Sementara per 17 Maret 2021, nilai tukar rupiah melemah 2,20% secara rerata dan 1,16% secara point to point dibandingkan dengan level Februari 2021. Dengan perkembangan tersebut, berarti dari akhir tahun 2020 hingga pertengahan bulan ini, rupiah mencatat depresiasi sekitar 2,62% year to date [ytd].

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan, gonjang-ganjing nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh peningkatan yield US Treasury dari 1,35% menjadi 1,61%. Seluruh dunia mengalami kenaikan yield di surat berharga mereka. Tak hanya itu, peningkatan yield dibarengi dengan makin perkasanya dolar Amerika Serikat [AS].

“Namun, ini tak menyurutkan semangat Bank Indonesia bersama dengan Kementerian Keuangan untuk menjaga bersama stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar Surat Berharga Negara [SBN],” ujar Perry, Kamis [18/3].

Perry membeberkan langkah apa saja yang telah dilakukan oleh bank sentral. Pertama, bank sentral menjual devisa. Kedua, BI melakukan intervensi di pasar spot dan intervensi Domestic Non Deliverable Forward [DNDF].