Stunting dan Pendapatan Rendah Warisan Masalah di Kepulauan Nias

0
373

Dampak kemiskinan adalah meningkatkan kriminalitas dan angka kematian. Tertutupnya akses pendidikan, banyak pengangguran dan terjadi konflik di tengah masyarakat…

Nias-Intipnews.com:Stunting, pendapatan rendah dan kemiskinan masih menjadi warisan masalah berkelanjutan di Kepulauan Nias, Sumatera Utara.
“Menurut pandangan saya, pembangunan satu dasawarsa ini di Kepulauan Nias belum dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat secara signifikan,” ucap tokoh masyarakat Nias Baziduhu Zebua [foto], Selasa 26 November 2019.

Dalam menyambut hari jadi ke-11 di Daerah Otonomi Baru [Dob] di Kepulauan Nias saat ini menurut dia diwarnai berbagai kegiatan yang serba gemerlap. Salah satu contohnya adalah gebyar 11 tahun hari jadi Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara yang dipusatkan di taman Ya’ahowu Kota Gunungsitoli.

“Hakekatnya kegiatan tersebut dapat diartikan sebagai upaya memberi ruang bagi warga untuk berpatisipasi,” ucapnya. Namun, lebih elok jika acara tersebut disertai dengan ucapan rasa syukur kepada Tuhan dan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpatisipasi memperjuangkan Dob di kepulauan Nias.

“Menurut saya, saat-saat seperti ini dapat dimanfaatkan semua pihak untuk memalingkan pandangannya ke belakang, sekaligus melayangkan tatapan jauh ke depan,” katanya.

Tujuannya adalah untuk mendalami apa yang sudah terjadi dan apa yang ingin diraih dengan berbagai ekspektasi dan tantangan yang akan dihadapi. Sebab sesuai data, kesejahteraan masyarakat selama satu dasawarsa di Kepulauan Nias mulai tahun 2008 sampai 2018 belum dapat diperbaiki secara signifikan.

Bahkan peringkat Indeks Pembangunan Manusia [IPM] semua Dob yang ada di Kepulauan Nias masih berada di urutan terbawah di antara 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara, kecuali kota Gunungsitoli masuk peringkat 24.

Sehingga Stunting, pendapatan masyarakat dan kemiskinan menjadi warisan masalah yang berkelanjutan di Kepulauan Nias hingga saat ini.

“Pada rapat kerja komisi XI DPR-RI dengan Bappenas tanggal 6 November 2019, anggota DPR RI Sihar P Sitorus mengungkapkan jika 41,6 % balita di Pulau Nias menderita stunting, dan dia mengusulkan adanya desk khusus untuk pembangunan di Kepulauan Nias,” ujarnya.

 Hambatan Upaya Peningkatan Kesejahteraan

Data tersebut juga didukung data dari  Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara yang mengungkapkan penderita stunting di Kabupaten Nias 41,6 %, Nias selatan 38,9 %, Nias Utara 41,6%, Nias Barat 45,7 % dan Kota Gunungsitoli 30,8%.

Sedangkan untuk pendapatan rendah, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan [Bappeda] Kabupaten Nias tersebut memastikan pendapatan perkapita masyarakat di kepulauan Nias jauh di bawah rata rata pendapatan Sumatera Utara.

Sesuai data PDRB perkapita atas dasar harga tahun 2017, pendapatan perkapita Kabupaten Nias Rp 23.503.139 pertahun, Nias selatan Rp 18.080.302 pertahun, Nias Utara Rp 22.103.089 pertahun, Nias Barat Rp 18.050.353 pertahun dan Kota Gunungsitoli Rp 32.337.866 pertahun.

“Jika dibandingkan dengan pendapatan perkapita Sumatera Utara sebesar Rp 47.963.990 pertahun, maka angka pendapatan perkapita seluruh daerah di Kepulauan Nias masih sangat rendah,” sesalnya.

Hal tersebut tentu menjadi hambatan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang mengakibatkan kualitas sumber daya manusia [SDM] masih rendah, padahal SDM adalah modal utama pembangunan berkelanjutan. Soal Kemiskinan, Baziduhu memberitahu jika Kepulauan Nias masih tercatat sebagai daerah termiskin di Sumatera Utara.

Kemiskinan di Kepulauan Nias Tidak Oleh Kemiskinan Alamiah

Masyarakat miskin di Kabupaten Nias Barat 26,72 % peringkat pertama, Nias Utara 26,56 % peringkat kedua, Kota Gunungsitoli 18,44 % peringkat tiga, Nias Selatan 16,65 % peringkat empat dan Nias 16,37 %  peringkat lima.

“Penyebab kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak, baik itu makanan dan non makanan,” ucapnya.

Ada enam jenis kemiskinan, yaitu kemiskinan subjektif, absolut,relatif, alamiah, kultural dan struktural. Dari enam jenis kemiskinan di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa kemiskinan di kepulauan Nias tidak disebabkan oleh kemiskinan alamiah, karena sumber daya alam masih tersedia.

“Apapun yang menyebabkan kemiskinan di Kepulauan Nias, kita berharap semua pihak dapat memahami dampak kemiskinan,” harapnya. Dampak dampak kemiskinan menurut dia  adalah meningkatkan kriminalitas dan angka kematian, tertutupnya akses pendidikan, banyak pengangguran dan terjadi konflik di tengah masyarakat seperti tindakan anarkis dan SARA.

  • Laporan Irwanto Hulu
  • BAagikan berita ini

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini