Ilustrasi. Istimewa

Koordinator Lembaga Advokasi Umat Islam Majelis Ulama Islam Sumatera Utara mengatakan, pihak MUI sudah memanggil penceramah Miftah. Namun dia tidak kunjung hadir.

Medan-Intipnews.com:Ormas Islam melaporkan Miftahul Chair, penceramah di Medan, Sumatera Utara ke Polrestabes Medan [dipolisikan] dengan dugaan penistaan agama. Laporan ke polisi itu buntut dari unggahan kalimat di akun facebook oleh Miftah yang dianggap provokatif.

Dalam unggahannya 29 Juni 2020, Miftah menyinggung soal perempuan yang memakai cadar. “Saya tak habis pikir, cewek-cewek yang bercadar itu. Saya aja pake masker gak bisa lama-lama. Mereka satu harian memakainya apa gak bau jigong, bau lecit atau bau tungkik itu kain cadarnya, dan parahnya dikatakan ini perintah Allah, padahal tak ada di Alquran menyuruh cewek pake cadar. Aneh sekali, masak Tuhan menyuruh kita menikmati bau jigong kita. Beragama itu bukan pragmatis, tapi wajib logis dan kritis,” tulis Miftah dalam akun facebook @ miftah.alustadz.12.

Masih Mitfah menyebut, alasan-alasan krusial itulah yang membuat cewek bercadar melepas cadarnya. Rata-rata mereka memakainya karena dogma buta,” imbuhnya. Koordinator Lembaga Advokasi Umat Islam Majelis Ulama Islam Sumatera Utara [Ladui MUI Sumut], Faisal mengatakan pihak MUI sudah memanggil Miftah. Namun dia tidak kunjung hadir.

“Dari permintaan yang dikirim Ladui, dia bilang mau memberikan klarifikasi. Tetapi yang mennentukan tempat dan waktunya dia. Dan dilakukan di live facebook. Karena TKP-nya di Facebook,” ujar Faisal Minggu 19 Juli 2020.

Laporan di kepolisian juga sudah diterima. Ini bukan kali pertama Miftah dianggap berbuat polemik. Dia pernah dipanggil Dewan Fatwa MUI terkait ceramahnya yang dinilai tidak etis.

Menurut Faisal, Miftah dinilai sudah melanggar Pasal 28 ayat (2) Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik [ITE] yang isinya, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan [SARA].

Ladui mengimbau supaya masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Pihaknya masih menunggu tindakan dari kepolisian. “Karena sudah ada permintaan ke MUI supaya berbagai Ormas Islam saja yang melakukan tindakan menjemput dan sebagainya. Kita patuh hukum, kita serahkan kepada aparat yang berwajib, supaya aparat yang memroses,” tukasnya.

Miftah yang dikonfirmasi mengaku jika dirinya mengunggah status itu berdasarkan pengalamannya saat berceramah. Saat itu, ada seorang perempuan yang mendatanginya dan mengatakan soal bau tidak sedap saat memakai cadar.

Dia tidak sepakat jika unggahan itu dianggap menistakan agama. Bagi dia, beropini di media sosial adalah kebebasan berekspresi dan berpendapat. “Kalau ada tindak lanjut dari kepolisian yah saya datang saja karena memang badan hukum. Wajib kita hadir,” tukasnya. *Idt

TINGGALKAN BALASAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini